Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

NASA Soroti Kebakaran Gambut RI, Aktivitasnya Mirip 2015

Satelit Aqua NASA memantau ratusan titik api kebakaran gambut di Indonesia pada 1 September 2026, menandakan mulai memanasnya musim kebakaran tahunan. Fenomena ini dipicu oleh El Nino yang terus menguat sejak Agustus 2026 dan fase positif Indian Ocean Dipole, yang menyebabkan curah hujan menurun drastis. Robert Field dari Columbia University menyatakan aktivitas kebakaran naik tajam, mirip pola tahun 2015 yang pernah melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca. Pada September 2026, kebakaran yang baru berlangsung sebulan sudah menyumbang sekitar 10% dari total emisi tahun 2015.

Kebakaran gambut berbeda dari kebakaran hutan biasa karena membakar lahan basah yang mengering perlahan, menyala pada suhu rendah, dan mudah menyebar di bawah tanah melalui deposit gambut. Indonesia menyimpan sekitar 36% lahan gambut tropis dunia, sehingga kemarau panjang di wilayah seperti Kalimantan, Sumatra, dan Papua berisiko tinggi. Kementerian Kehutanan mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026, sementara sekitar 90% wilayah Indonesia hampir tidak menerima hujan pada awal Agustus 2026.

Dampak kebakaran gambut sangat signifikan: partikel halus tiga kali lipat, sulfur dioksida lima kali lipat, karbon organik tiga kali lipat, serta metana dan karbon monoksida dua kali lipat dibandingkan kebakaran hutan lain. Pemerintah Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk terpapar asap berbahaya, sejumlah sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional ditutup, dan penerbangan tertunda. Mark Cochrane menekankan perlunya perhatian berkelanjutan, bukan hanya fokus saat El Nino, untuk menyelesaikan akar masalah kebakaran gambut secara menyeluruh.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait