Jakarta · Kamis, 1 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Pakar Ungkap Alasan Bogor Masih Kerap Hujan di Tengah El Nino

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menjelaskan bahwa dampak El Nino 2026-2027 tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Bogor masih kerap mengalami hujan meski dalam masa El Nino karena pengaruh topografi pegunungan dan kondisi lokal yang berbeda. Sebaliknya, wilayah seperti Lamongan di Jawa Timur justru mengalami kemarau yang lebih panjang. Pola ini menunjukkan bahwa perambatan gelombang El Nino menyebabkan pergeseran musim kemarau yang tidak sederhana lagi berdasarkan garis ekuator.

Erma menambahkan bahwa timnya menggunakan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) untuk menilai risiko tekanan panas ekstrem. Hasilnya menunjukkan Kalimantan dan Papua memiliki kerentanan tinggi terhadap panas ekstrem dan potensi peningkatan kebakaran hutan. Selain itu, kajian juga memperkirakan risiko kekeringan akibat El Nino akan berlanjut hingga periode 2027-2028, didasarkan pada simulasi 14 model iklim NASA NEX-GDDP.

Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography menyampaikan bahwa anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal menuju Super El Nino yang bisa bertahan hingga awal 2027. Ia memperkirakan peluang 75 persen bahwa musim Oktober hingga Desember 2026 akan menjadi peristiwa El Nino terkuat sejak 1950-an. Dampaknya meliputi peningkatan gelombang, pasang surut ekstrem, dan banjir pesisir di wilayah seperti Pantai California.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait