Perlukah Guru Besar Menjadi Guru Bangsa?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Temu Akbar Guru Besar UI 2026 menyoroti kegelisahan publik terhadap peran akademisi sebagai 'Guru Bangsa'. Rektor UI menuntut guru besar tidak hanya menjadi slogan, melainkan membuktikan kontribusi nyata berbasis data. Namun, diskusi mendalam mengungkap bahwa sistem karier akademik Indonesia menghukum dosen untuk fokus pada publikasi internasional, bukan kontribusi publik. Metrik kredit dan promosi jabatan fungsional justru membebani guru besar untuk menjadi spesialis terisolasi, bukan pendidik yang terhubung masyarakat. Tanpa reformasi insentif dan kanal institusional antara keilmuan dengan kebijakan, tuntutan menjadi 'Guru Bangsa' justru menjadi beban struktural yang tidak adil.
Bagikan
Berita terkait
Rencana Pendirian URI Disorot, Lebih Baik Perkuat Kampus yang Ada
JPNN.com · 31 Juli 2026 pukul 12.10
Pigai Desak Papua Putus Tradisi Uang
Media Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 16.59
AS Gandakan Buyback Surat Utang, Purbaya: Tiru Kita
Detik.com · 20 Agustus 2026 pukul 15.51
Pramono Anung Akui masih Pertimbangkan soal Nasib Jalur Sepeda di Jakarta
Media Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 15.36