Pertama di Dunia: Ilmuwan Ciptakan Virus Pakai AI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Para ilmuwan berhasil menciptakan virus pertama di dunia yang dirancang menggunakan kecerdasan buatan (AI). Virus tersebut adalah bakteriofag, virus yang hanya menyerang bakteri dan umum dipakai untuk terapi infeksi bakteri yang kebal obat. Penelitian dipimpin Brian Hie, insinyur kimia dari Stanford University, memanfaatkan model bahasa genom Evo1 dan Evo2, yaitu AI yang dilatih pada data genetik 2 juta bakteriofag. Kode genetik virus yang menginfeksi tumbuhan, manusia, atau hewan sengaja dikeluarkan dari data pelatihan untuk mengurangi risiko. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Science.
AI menghasilkan ribuan calon genom; peneliti memilih sekitar 300 untuk dibuat di laboratorium, tetapi hanya 16 bakteriofag yang hidup dan berfungsi. Kombinasi virus tersebut terbukti membasmi bakteri E. coli yang sudah kebal terhadap bakteriofag alami. Peneliti menilai kemampuan merancang genom secara cepat dapat mengubah terapi bakteriofag dan memperluas bioteknologi, meski prosesnya belum efisien.
Para ahli mengingatkan risiko biosekuritas. Regulasi dan tata kelola untuk penggunaan aman belum tersedia. Pakar menyarankan pendekatan berlapis: melindungi akses model AI, meninjau riset, menyaring sintesis DNA, dan menerapkan standar laboratorium ketat. Mereka menekankan penelitian pada patogen yang menginfeksi manusia, hewan, atau tumbuhan sebaiknya tidak dilanjutkan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 9 Agustus 2026 pukul 07.00
Ilmuwan Sukses Ciptakan Virus Pakai AI, Picu Pro Kontra
JawaPos · 7 Agustus 2026 pukul 20.57
AI Kini Bisa Merancang Virus Baru, Ilmuwan Peringatkan Potensi Manfaat Sekaligus Ancaman Biologis
Berita terkait
OpenAI Astra Klaim Pecahkan 10 Masalah Matematika yang Lama Buntu
Detik.com · 3 Agustus 2026 pukul 08.15
Alibaba Qwen Salip Meta dan Google, Model AI Open-Source Tiongkok Kuasai Pengembang Global
JawaPos · 18 Agustus 2026 pukul 00.00
Dario Amodei Akui Dunia Dilanda Krisis Kepercayaan AI, Industri Dituntut Buktikan Manfaatnya
JawaPos · 17 Agustus 2026 pukul 23.47
CEO OpenAI Sebut Kuliah 4 Tahun Terlalu Lama, Kenapa?
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 22.15