Petani Jepang Kini Bertani Tengah Malam, Suhu Panas Makin Mematikan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Petani Jepang secara drastis mengubah jam kerja ke malam hari atau pagi awal demi menghindari gelombang panas ekstrem yang mengancam kesehatan dan produktivitas. Perubahan ini terjadi setelah beberapa kasus heatstroke pada pekerja, termasuk petani bunga Motoaki Iijima yang menghidupkan lahan sawahnya menjadi perkebunan bunga. Saat suhu di luar mencapai 35°C, suhu di dalam rumah kaca bisa mencapai 40°C, sehingga pekerjaan di siang hari menjadi tidak aman. Pada 2024, 59 pekerja pertanian meninggal akibat panas, lebih dari dua kali lipat dibanding 2021. Sekitar 70% petani Jepang berusia 65 tahun atau lebih rentan terhadap panas. Hampir 60% petani yang disurvei memindahkan pekerjaan ke waktu lain, dan sektor pertanian kehilangan 926 juta jam kerja, setara USD46 miliar atau 1% PDB Jepang. Peternak ayam juga mengubah rutinitas, seperti yang dilakukan Tetsuya Usuba yang memasang lampu dan kipas untuk mengurangi risiko kehilangan ternak.
Bagikan
Berita terkait
SDM Pertanian yang Unggul Harus Terus-menerus Dicetak
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 11.58
Media Asing Soroti Rencana Proyek Nuklir RI di Pulau Tak Berpenghuni
CNBC Indonesia · 23 Agustus 2026 pukul 08.00
Ilmuwan Ungkap Jaringan Jamur Bawah Tanah Sepanjang 11.000 Tahun Cahaya
Media Indonesia · 22 Agustus 2026 pukul 19.29
Peneliti Jepang Temukan Bakteri Sungai yang Mampu Kurangi PFAS
VOI · 22 Agustus 2026 pukul 15.45