Saking Panasnya, Unta di Afrika Tak Tahan Sampai Ada yang Mati
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Fenomena suhu panas ekstrem di Afrika telah memengaruhi kawanan unta, hewan yang umumnya tahan panas. Di Ethiopia, pengembala Umer melaporkan 8 anak unta mati dari 500 ekornya dalam sebulan akibat panas ekstrem, dengan gejala seperti kaki melepuh, mata berair, dan kulit terbakar oleh pasir panas. Panas juga menyebabkan penghilangan air, vegetasi, dan berkurangnya area berteduh. Studi 2025 di Ethiopia Selatan menunjukkan dampak buruk suhu tinggi pada kesehatan unta.
Di Somalia, kematian unta akibat kekeringan dalam krisis yang meluas berdampak pada 46% rumah tangga pemilik unta. Di Kenya, dokter hewan Hassan Nuya Guyo melaporkan peningkatan kematian unta lebih dari 15% dalam dua tahun terakhir, dengan peningkatan kasus hipertermia dan infeksi.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat gelombang panas dengan tren kenaikan sejak 1981. Pada 2024, suhu di Afrika Utara dan Timur Tengah mencapai di atas 50 derajat Celcius. Afrika Utara mengalami pemanasan tercepat dengan laju 0,43 derajat Celcius per dekade selama 1991 hingga 2025.
Bagikan
Berita terkait
China Digempur Cuaca Ekstrem, Xi Jinping Soroti Mitigasi Bencana
CNN Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 05.00
500 Wisatawan Dievakuasi lewat Jalur Laut akibat Kebakaran Hutan di Yunani
Media Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 14.46
Gelombang Panas Ekstrem Melanda Eropa, Suhu Tembus 42,5 Derajat Celsius
Media Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 12.09
Ilmuwan Kaget Lihat Ganasnya El Nino 2026
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 16.46