Jakarta · Jumat, 11 September 2026Cari
WargaKonoha

Soroti Peristiwa 2018, Pakar Ungkap Gambaran Masa Depan Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari terakhir kerap dikaitkan dengan peristiwa tsunami yang terjadi pada tahun 2018. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa peristiwa tsunami di Selat Sunda pada 2018 dapat menjadi acuan penting untuk menilai potensi bahaya gunung tersebut di masa depan. Namun, setiap siklus erupsi memiliki karakteristik yang berbeda. Pada 2018, tsunami disebabkan bukan oleh ledakan erupsi, melainkan akibat longsoran tiba-tiba dari tubuh gunung ke laut (flank collapse). Daryono menegaskan bahwa mekanisme longsoran lereng akan selalu menjadi ancaman permanen selama proses pembangunan tubuh gunung masih berlangsung.

Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan bahwa erupsi saat ini tidak berpotensi memicu tsunami seperti 2018. Perbedaan mendasar terletak pada kondisi fisik gunung yang kini lebih kokoh dan stabil dibandingkan sebelum longsor 2018. Evaluasi geologi terkini menunjukkan bentuk kawah dan tubuh gunung pasca-runtuh 2018 masih dalam kategori aman dari risiko longsoran besar. Proses pembentukan kembali tubuh gunung belum mencapai volume kritis yang membahayakan.

Daryono menyarankan pemerintah memperkuat mitigasi dengan pendekatan yang tidak hanya fokus pada erupsi, tetapi juga potensi longsoran dan tsunami vulkanik. Langkah-langkah yang perlu dilakukan meliputi penguatan pemantauan real-time (tide gauge, radar maritim, sensor deformasi lereng), penetapan zona kerawanan bencana yang ketat di pesisir Selat Sunda, sistem peringatan berbasis komunitas, jalur evakuasi tsunami, tempat evakuasi sementara, penanaman mangrove, serta edukasi literasi kebencanaan bagi masyarakat pesisir.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait