Survei Ungkap Populasi Orangutan Sumatera Turun Hampir 20 Persen
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kementerian Kehutanan mengumumkan hasil survei Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2023 yang menunjukkan populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) turun 19,5% dalam 12 tahun, dari 14.394 ekor (2011) menjadi 11.694 ekor. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) tersisa hanya sekitar 716 individu. Kedua spesies dikategorikan Critically Endangered. Penyebab utama penurunan adalah hilangnya dan terfragmentasinya habitat (94.399 hektare hutan hilang 2011-2023 akibat ekspansi perkebunan, infrastruktur, pertambangan, perambahan ilegal), konflik manusia-orangutan, perburuan, dan perdagangan ilegal. Laju reproduksi sangat lambat (betina melahirkan 1 anak per 7-9 tahun) memperparah kerentanan populasi. Peneliti IPB Dede Aulia Rahman menilai ini kondisi darurat konservasi; 76% variasi perubahan populasi dipengaruhi kehilangan hutan. Habitat hilang mendorong orangutan ke kebun/permukiman, memicu konflik dan pembunuhan. Pemerintah akan menyusun PHVA 2026 sebagai dasar pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK). Upaya terpadu diperlukan: hentikan kehilangan habitat penting, pulihkan koridor ekologis, tekan kematian akibat aktivitas manusia, dan perkuat kolaborasi multi-pihak.
Bagikan
Berita terkait
Manta Impact Bond Disiapkan untuk Lindungi Pari Manta Raja Ampat
CNN Indonesia · 27 September 2026 pukul 19.45
China Kirim 2 Panda Raksasa ke AS
SINDOnews · 27 September 2026 pukul 15.05
Kebakaran Hutan Kalimantan, Populasi Orang Utan Kian Terancam
CNN Indonesia · 27 September 2026 pukul 06.30
Wagub Rano Dorong Ekonomi Pesisir Lewat Pariwisata Berbasis Konservasi
Warta Ekonomi · 25 September 2026 pukul 20.25