Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Tanda Kiamat Muncul dari Sikat Gigi

Sikat gigi, barang sepele yang digunakan sehari-hari, ternyata berkontribusi pada perubahan iklim dan krisis lingkungan. Sejak awal abad ke-20, sikat gigi modern mulai menggunakan bahan tidak ramah lingkungan seperti plastik untuk gagang dan nilon untuk bulu sikat. Bahan-bahan ini tidak dapat terurai dengan cepat dan berbahaya bagi lingkungan.

Berdasarkan data, sikat gigi harus diganti setiap 3-4 bulan sekali. Dengan populasi Indonesia sebesar 273 juta jiwa, setiap tahun terbentuk lebih dari 1 miliar sampah sikat gigi. Di skala global, dengan 8 miliar penduduk, jumlah sampah sikat gigi mencapai 24 miliar per tahun. Sikat gigi butuh waktu 200-700 tahun untuk terurai, dan plastiknya justru mengeluarkan gas rumah kaca serta membunuh zooplankton yang berperan menyerap karbon di laut.

Laporan National Geographic menyatakan bahwa sampah sikat gigi di Amerika Serikat setara dengan empat keliling bumi dalam setahun. Selain itu, sekitar 264 juta sikat gigi dibuang karena melebihi batas penggunaan, belum termasuk sikat gigi listrik yang meng mengandung baterai berbahaya. Plastik dari sikat gigi yang mencemari laut berpotensi memperparah krisis iklim.

Berita terkait