Tanda Kiamat Muncul dari Sikat Gigi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sikat gigi, barang sepele yang digunakan sehari-hari, ternyata berkontribusi pada perubahan iklim dan krisis lingkungan. Sejak awal abad ke-20, sikat gigi modern mulai menggunakan bahan tidak ramah lingkungan seperti plastik untuk gagang dan nilon untuk bulu sikat. Bahan-bahan ini tidak dapat terurai dengan cepat dan berbahaya bagi lingkungan.
Berdasarkan data, sikat gigi harus diganti setiap 3-4 bulan sekali. Dengan populasi Indonesia sebesar 273 juta jiwa, setiap tahun terbentuk lebih dari 1 miliar sampah sikat gigi. Di skala global, dengan 8 miliar penduduk, jumlah sampah sikat gigi mencapai 24 miliar per tahun. Sikat gigi butuh waktu 200-700 tahun untuk terurai, dan plastiknya justru mengeluarkan gas rumah kaca serta membunuh zooplankton yang berperan menyerap karbon di laut.
Laporan National Geographic menyatakan bahwa sampah sikat gigi di Amerika Serikat setara dengan empat keliling bumi dalam setahun. Selain itu, sekitar 264 juta sikat gigi dibuang karena melebihi batas penggunaan, belum termasuk sikat gigi listrik yang meng mengandung baterai berbahaya. Plastik dari sikat gigi yang mencemari laut berpotensi memperparah krisis iklim.
Bagikan
Berita terkait
Hadapi Perubahan Iklim, 269.000 Bibit Mangrove Ditanam di Pesisir Jawa
SINDOnews · 25 September 2026 pukul 13.45
Menteri AHY Benar, Bukti Kondisi Indonesia Sudah Genting Makin Banyak
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.20
Emisi Karhutla Indonesia Tertinggi di Dunia, Lampaui Rusia
Detik.com · 14 September 2026 pukul 09.45
Inilah 10 Kebakaran Hutan Terbesar Sepanjang Sejarah di Dunia
Liputan6.com · 3 September 2026 pukul 18.00