6 Fakta Massive Attack Kibarkan Bendera Palestina di Singapura, Diperlakukan Layaknya Teroris
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Grup musik asal Inggris Massive Attack ditahan, diisolasi, dan diinterogasi oleh kepolisian Singapura setelah mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan 'Bebaskan Palestina' selama konser di Singapura pada 29 Juli. Dua anggota band, Robert Del Naja dan Grant Marshall, dilarang kembali ke Singapura secara tak terbatas akibat dugaan pelanggaran terhadap undang-undang yang mengatur pengibaran bendera asing dan ekspresi politik di acara publik. Mereka menggambarkan perlakuan yang diterima sebagai 'pengalaman surealis' dan menyatakan kebingungan karena menganggap pengibaran bendera Palestina yang diakui oleh 157 negara seharusnya tidak melanggar hukum. Massive Attack menyampaikan kekecewaan terhadap sikap pemerintah Singapura dan menegaskan dukungan moral terhadap rakyat Palestina. Mereka juga menyoroti bahwa sebagian besar penonton secara spontan ikut meneriakkan 'Bebaskan Palestina', yang menurut mereka mencerminkan rasa solidaritas yang tulus.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 2 Agustus 2026 pukul 12.14
Band Inggris Diusir Singapura gegara Kibarkan Bendera Palestina Saat Konser
Berita terkait
Singapura Larang Masuk Massive Attack Gara-gara Kibarkan Bendera Palestina saat Konser
SINDOnews · 3 Agustus 2026 pukul 15.08
Macklemore Gelar Tur 'Free Palestine', Hasil Penjualan Tiket Akan Didonasikan
SINDOnews · 25 September 2026 pukul 10.01
Ed Sheeran Kini Bicara Gaza Usai Kontroversi: Hati Saya Hancur Melihatnya
Detik.com · 20 September 2026 pukul 12.33
Ed Sheeran Buka Suara usai Macklemore Dicoret dari Tur karena Serukan 'Free Palestine'
SINDOnews · 16 September 2026 pukul 09.43