Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pernapasan, Dokter UGM Ungkap Risiko dan Cara Melindungi Diri
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Erupsi gunung berapi menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat akibat partikel abu vulkanik yang dapat terhirup. Dr. Ahmad Fikri Syadzali, Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSA UGM, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung silika dan kaca vulkanik yang dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi ketika bersentuhan dengan mukosa saluran napas.
Partikel abu vulkanik berukuran kecil dapat masuk ke dalam paru-paru. Partikel dengan ukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) dapat melewati saluran pernapasan bagian atas hingga mencapai bronkus. Partikel yang lebih kecil, kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5), dapat masuk lebih jauh hingga bronkiolus dan alveolus, bagian paru-paru yang kritis untuk pertukaran oksigen. Semakin kecil partikel, semakin dalam penetrasinya dan semakin sulit untuk dikeluarkan.
Paparan abu vulkanik dapat memicu inflamasi yang merusak epitel bronkus dan alveolus, meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, dan menyebabkan edema atau pembengkakan pada saluran pernapasan. Faktor yang memengaruhi dampak kesehatan termasuk ukuran partikel, kandungan mineral, konsentrasi abu di udara, dan durasi paparan.
Bagikan
Berita terkait
Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Mencemari Ekosistem Laut? Pakar IPB Beri Penjelasan
SINDOnews · 10 September 2026 pukul 11.47
Pakar IPB Ungkap Bahaya Abu Vulkanik pada Tanaman dan Lahan Pertanian
Media Indonesia · 9 September 2026 pukul 11.10
Bersihkan Abu Vulkanik Anak Krakatau, BMKG Lanjutkan OMC hingga 10 September
kumparan · 8 September 2026 pukul 20.44
Alasan Warga Depok Pilih Cuci Mobil di Tempat Steam Usai Kena Abu Vulkanik
Detik.com · 8 September 2026 pukul 19.59