Adakah Perayaan Rebo Wekasan dalam Islam? Menguak Sejarah Tradisi Jawa Sejak Sunan Giri
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Rebo Wekasan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan setiap Rabu terakhir bulan Safar, tahun ini jatuh pada 12 Agustus 2026. Menurut paper Siti Mahmudah Yanti berjudul "Tradisi Rebo Wekasan Di Desa Suci", tradisi ini sudah melekat dengan budaya Jawa dan dilakukan sejak zaman Sunan Giri. Dari bahasa Arab, istilah ini berasal dari kata Arba'a (Rabu) dan Hasanun (bagus), sehingga berarti hari Rabu digunakan untuk hal-hal baik. Sementara dalam bahasa Jawa, Rebo Wekasan berarti Rebo Pungkasan, yaitu Rabu terakhir di bulan Safar.
Tradisi ini muncul karena sebagian ulama menyebut bahwa pada bulan Safar Allah menurunkan 320.000 hingga 500.000 lebih macam penyakit atau musibah. Untuk menghindarinya, umat Islam melakukan tirakatan, beribadah, dan berdoa memohon perlindungan dari malapetaka. Di Desa Suci, Gresik, Jawa Timur, tradisi ini identik dengan keramaian, namun nuansa religiusnya mulai terlupakan masyarakat karena banyak yang tidak tahu latar belakangnya.
Sementara itu, paper Siti Nurjannah tentang tradisi Rebo Wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah, Cirebon, menyebut tradisi ini diwariskan turun-temurun. Pengasuh pondok, Nyai Fatimah, meyakininya sebagai tradisi leluhur yang harus dilestarikan karena jika tidak diamalkan ia khawatir datang bencana (blai). Ritual ini dianggap sebagai bentuk ikhtiar hamba agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan di Rabu terakhir bulan Safar.
Bagikan
Berita terkait
Bala dalam Islam: Ujian Allah yang Tak Selalu Berupa Musibah
SINDOnews · 12 Agustus 2026 pukul 05.15
Benarkah Amalan Rebo Wekasan untuk Tolak Bala?
SINDOnews · 11 Agustus 2026 pukul 11.58
Rebo Wekasan 2026: Benarkah Rabu Terakhir Safar Menjadi Hari Paling Berat Sepanjang Tahun?
SINDOnews · 11 Agustus 2026 pukul 05.15
Rebo Wekasan 2026 Jatuh 12 Agustus, Bolehkah Membaca Doa dan Amalan Khusus?
SINDOnews · 9 Agustus 2026 pukul 15.57