Agar inklusivitas global bukan sekadar jargon
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ANTARA membahas pentingnya inklusivitas global dalam menghadapi tantangan bersama seperti perubahan iklim dan konflik geopolitik. Konten menyoroti bahwa energi yang biasanya digunakan untuk memulai perang sebaiknya dialihkan untuk mengatasi isu global yang mendesak, termasuk dampak perubahan iklim yang mempengaruhi semua sektor seperti pangan, pertanian, ekonomi, dan kesehatan. Konflik geopolitik semakin memburuk dengan mengganggu rantai pasok global, menyebabkan kelangkaan dan inflasi.
Indonesia, melalui Presiden Prabowo Subianto, berupaya membangkitkan semangat persatuan global, khususnya di kalangan negara-negara berkembang atau Global South. Dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi BRICS 2026, Prabowo menekankan bahwa kekuatan kolektif Global South menjadi modal penting untuk menciptakan peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara berkembang.
Negara-negara berkembang seperti China, India, Indonesia, dan Pakistan, yang dikelompokkan sebagai Global Majority, memiliki potensi pasar dan populasi yang besar. Dengan meningkatkan kerja sama serta integrasi pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan, negara-negara berkembang diproyeksikan mampu mengoptimalkan potensi mereka untuk kesejahteraan nasional.
Bagikan
Berita terkait
Ilmuwan Uji Wol Domba untuk Perlambat Pencairan Gletser
CNN Indonesia · 14 September 2026 pukul 11.44
Pidato Prabowo di KTT BRICS, RI Hadapi Cuaca Ekstrem-Gunung Api Aktif
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 10.55
Seskab Teddy Ungkap 3 Pesan Penting Prabowo di KTT BRICS 2026
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 09.56
Prabowo: BRICS Wadah Menyatukan Suara Negara Berkembang
JPNN.com · 14 September 2026 pukul 09.52