AI Militer yang Dikembangkan AS dan Israel Gagal Mengalahkan Iran, Ini 3 Penyebabnya!
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigadir Jenderal Hossein Mohebi menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel gagal mengalahkan Iran meskipun menggunakan teknologi militer canggih termasuk kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, sistem AI digunakan untuk mengumpulkan dan memproses data dari satelit, drone, radar, sensor, dan laporan intelijen lapangan guna mengidentifikasi target, menilai kerusakan, dan melacak sumber daya manusia. Namun, AI tidak mampu menganalisis kemampuan ideologis dan institusional Iran yang menjadi kekuatan utama negara tersebut.
Mohebi menjelaskan bahwa agresi tersebut merupakan pengalaman baru dalam penggunaan teknologi canggih di medan perang. Meskipun AS mengerahkan kemampuan militer terbaruk, teknologi tersebut gagal mengukur dan mengganggu kohesi ideologis, persatuan, dan tekad nasional Iran. AI hanya fokus pada data teknis dan target, sehingga tidak dapat memproyeksikan kekuatan moral dan spiritual yang mendukung ketahanan Republik Islam Iran.
Di sisi lain, Iran berhasil menghambat serangan musuh dengan menggunakan teknologi miliknya sendiri, termasuk rudal dan drone, untuk mengganggu jaringan kekuatan musuh. Mohebi menekankan bahwa kombinasi ketahanan institusional, kekuatan ideologis, dan kemampuan teknologi lokal membuat Iran tetap tahan menghadapi serangan asing yang lebih besar.
Bagikan
Berita terkait
IRGC Lakukan Rekayasa Balik terhadap Drone Bawah Air AS yang Disita Iran
SINDOnews · 22 September 2026 pukul 20.29
IRGC Tangkap Dive-LD Milik AS, Iran Siap Tiru Teknologi Bawah Laut Tercanggih di Dunia
Warta Ekonomi · 10 September 2026 pukul 21.07
AS Tenggelamkan Kapal Tanker di Teluk Oman, Selat Hormuz Kembali Memanas
SINDOnews · 9 September 2026 pukul 11.31
Bertambah, Iran Laporkan 19 Orang Tewas Akibat Serangan AS
Detik.com · 3 September 2026 pukul 11.54