Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Alarm Krisis Dunia Berbunyi, Ekonom Beri Peringatan ke Indonesia

Sejumlah ekonom mengungkapkan kekhawatiran terkait kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah global yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Mereka menilai kenaikan yield ini dapat menjadi sinyal peringatan akan potensi krisis ekonomi, meskipun risiko tersebut belum signifikan. Kepala INDEF M. Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa kenaikan yield US Treasury, JGB Jepang, dan obligasi Eropa menunjukkan pasar meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko inflasi, fiskal, dan geopolitik. Akibatnya, biaya modal global naik, valuasi aset turun, dan likuiditas menjadi ketat. Rizal menegaskan kenaikan yield tidak langsung memicu krisis, namun dapat memicu defisit anggaran, utang yang membengkak, dan menurunnya kepercayaan investor.

Chief Economist BCA David Sumual menambahkan dampak kenaikan yield bergantung pada postur utang publik negara. Negara dengan utang rendah akan mengalami penurunan minat ekspansi bisnis, sementara negara dengan utang tinggi akan menghadapi peningkatan beban bunga yang signifikan. Secara historis, kenaikan yield pernah menjadi faktor pemicu krisis, namun krisis fiskal biasanya melibatkan faktor lain seperti krisis perbankan. David menilai kenaikan yield tidak langsung menyebabkan krisis, dan situasi saat ini belum seperti krisis 1998 atau 2008 yang bersumber dari nilai tukar, perbankan, atau sistem keuangan global.

Rizal memperingatkan kenaikan yield global akhirnya akan mempengaruhi perekonomian riil, termasuk Indonesia. Jika yield terus naik, cost of borrowing meningkat, investasi tertahan, dan ruang kebijakan suku bunga semakin terbatas. Kombinasi dengan harga minyak global yang tinggi menambah tekanan terhadap inflasi impor, tekanan rupiah, dan biaya modal yang lebih mahal. Indonesia perlu menjaga stabilitas rupiah, kualitas belanja, dan disiplin fiskal. David menyarankan pemerintah meningkatkan basis pajak, menjaga defisit di bawah 3% PDB, dan menurunkan rasio bunga utang terhadap pendapatan negara untuk memperkuat persepsi investor.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait