Alarm Krisis Dunia Berbunyi, Ekonom Beri Peringatan ke Indonesia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sejumlah ekonom mengungkapkan kekhawatiran terkait kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah global yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Mereka menilai kenaikan yield ini dapat menjadi sinyal peringatan akan potensi krisis ekonomi, meskipun risiko tersebut belum signifikan. Kepala INDEF M. Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa kenaikan yield US Treasury, JGB Jepang, dan obligasi Eropa menunjukkan pasar meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko inflasi, fiskal, dan geopolitik. Akibatnya, biaya modal global naik, valuasi aset turun, dan likuiditas menjadi ketat. Rizal menegaskan kenaikan yield tidak langsung memicu krisis, namun dapat memicu defisit anggaran, utang yang membengkak, dan menurunnya kepercayaan investor.
Chief Economist BCA David Sumual menambahkan dampak kenaikan yield bergantung pada postur utang publik negara. Negara dengan utang rendah akan mengalami penurunan minat ekspansi bisnis, sementara negara dengan utang tinggi akan menghadapi peningkatan beban bunga yang signifikan. Secara historis, kenaikan yield pernah menjadi faktor pemicu krisis, namun krisis fiskal biasanya melibatkan faktor lain seperti krisis perbankan. David menilai kenaikan yield tidak langsung menyebabkan krisis, dan situasi saat ini belum seperti krisis 1998 atau 2008 yang bersumber dari nilai tukar, perbankan, atau sistem keuangan global.
Rizal memperingatkan kenaikan yield global akhirnya akan mempengaruhi perekonomian riil, termasuk Indonesia. Jika yield terus naik, cost of borrowing meningkat, investasi tertahan, dan ruang kebijakan suku bunga semakin terbatas. Kombinasi dengan harga minyak global yang tinggi menambah tekanan terhadap inflasi impor, tekanan rupiah, dan biaya modal yang lebih mahal. Indonesia perlu menjaga stabilitas rupiah, kualitas belanja, dan disiplin fiskal. David menyarankan pemerintah meningkatkan basis pajak, menjaga defisit di bawah 3% PDB, dan menurunkan rasio bunga utang terhadap pendapatan negara untuk memperkuat persepsi investor.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 4 September 2026 pukul 06.30
AI Diproyeksi Sumbang Rp 6.474 Triliun ke PDB RI 2030
kumparan · 3 September 2026 pukul 13.15
Perdagangan Rusia-RI Naik 12%, Putin Mau Tingkatkan Kerja Sama Pertanian-Energi
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 13.05
Indonesia’s Sovereign AI Ambition: From Infrastructure to Economic Impact
Warta Ekonomi · 3 September 2026 pukul 09.23
IHSG Dibuka Menguat 0,56% ke Level 6.632,83, Didorong oleh 315 Saham
Berita terkait
Siaga Krisis? Obligasi Dunia Rontok, Yield AS-Jepang-Inggris Rekor
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 07.20
Inflasi Inti Bergerak ke 2,92%: Terkerek Harga Emas, Laptop-Oli Mesin
CNBC Indonesia · 1 September 2026 pukul 13.10
Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus US$3,7 Miliar, tapi Impor Tumbuh Lebih Kencang
Warta Ekonomi · 1 September 2026 pukul 12.57
Ekonomi RI alami inflasi tahunan 3,19 persen pada Agustus 2026
ANTARA News · 1 September 2026 pukul 11.38