Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital, Orang tua Diminta Cermati Perubahan Komunikasi Anak
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memperingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dari ajakan kekerasan langsung. Proses radikalisasi bisa berawal dari interaksi sederhana, bantuan personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten yang terus berulang karena kerja algoritma. Meutya menyampaikan hal tersebut dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku "Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran" di Jakarta, Rabu (29/7).
Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dengan kekuatan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kalah oleh emosi dan paparan berulang yang membentuk situasi post-truth. Proses radikalisasi tidak terjadi secara instan, melainkan dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pelunasan utang, hingga janji pendidikan atau kehidupan lebih baik. Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak, karena dampak paparan konten berbahaya tidak terlihat dalam satu atau dua hari, tetapi terbentuk perlahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 30 Juli 2026 pukul 14.10
Bermula dari Satu Klik, Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital
Berita terkait
Rencana Besar Kepala Bakom Syahganda Nainggolan, Singgung AI-Algoritma
CNBC Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 18.12
Bakom RI akan bentuk tim khusus awasi distorsi algoritma
ANTARA News · 2 Oktober 2026 pukul 17.48
Kepala Bakom Baru Syahganda Siapkan Tim Khusus: Pelajari Algoritma dan AI
kumparan · 2 Oktober 2026 pukul 16.31
Cara Kapolres Bekasi Ajak Keluarga Perkuat Karakter Pelajar Lewat Film
kumparan · 1 Oktober 2026 pukul 13.38