Apakah Sistem Desil Membuat Warga Miskin Kehilangan Bansos?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sistem pemeringkatan desil BPS dan DTKS dinilai menyelewengkan hak bansos warga miskin. Metode kuantitatif seperti luas rumah, daya listrik, dan kepemilikan sepeda motor menjadi kriteria utama, mengabaikan kemiskinan multidimensi. Kasus Sahwi dan Tima di Jember terhenti PKH dan BPNT karena terlempar ke Desil 7 meski hidup pas-pasan. Kesalahan data melanggar HAM, Pasal 28H dan 34 UUD 1945, serta ICESCR. ILO rekomendasikan beralih ke Jaminan Sosial Universal, bukan target-based. Perlu desentralisasi data dan proses bottom-up melalui musyawarah warga.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 29 Agustus 2026 pukul 16.00
Arti dan Rincian Desil 1-10, Jadi Acuan Penerima Bansos
Berita terkait
Lansia Difabel di Yogya Masuk Desil 10: Rumah Gang Sempit, Tak Punya Motor
kumparan · 28 Agustus 2026 pukul 15.05
Cerita Sopir Becak Motor di Malioboro Jogja Heran Masuk Desil 9
CNN Indonesia · 25 Agustus 2026 pukul 16.10
Tekan Kemiskinan, Anggaran Perlinsos 2027 Naik 10%, Jadi Rp 549,9 Triliun
JPNN.com · 14 Agustus 2026 pukul 21.26
Belanja Pemerintah Pusat Rp 3.362,2 T di 2027, Buat Apa Saja?
CNBC Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 17.57