Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Arang Tungku Halaban dari Loa Ipuh Darat

Di Loa Ipuh Darat, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Reza Karta Pahlevi mengelola produksi arang kayu halaban (Vitex pinnata) menggunakan tungku kubah tanah tradisional (dome kiln). Kayu halaban dari hutan sekunder dibakar melalui proses pirolisis dan karbonisasi selama 15-20 hari di dalam tungku yang dibungkus lapisan tanah lempung setebal 25-30 sentimeter sebagai penahan panas. Satu tungku yang berhasil dapat menghasilkan sekitar dua ton arang Grade A dan dapat digunakan kembali hingga lima-enam siklus pembakaran. Reza mendatangkan empat pekerja ahli dari Kalimantan Selatan karena keterampilan membaca warna dan arah asap tungku dianggap sebagai keahlian intuitif yang tak tergantikan mesin. Teknik tungku tanah ini berakar dari Kalimantan Selatan, berkembang sejak masa pendudukan Jepang, dan awalnya digunakan untuk kebutuhan pandai besi sebelum meluas ke kebutuhan kuliner. Produk arang dari Loa Ipuh Darat telah diekspor ke Timur Tengah, termasuk hotel-hotel di Arab Saudi, dan Reza kini membidik pasar Eropa. Ia mengaku permintaan ekspor jauh melebihi kapasitas produksi saat ini. Reza memiliki visi mengembangkan industri ini menjadi bagian dari ekonomi biomassa berkelanjutan dan green jobs, dengan melibatkan masyarakat menanam halaban di lahan pascatambang sebagai upaya rehabilitasi lahan sekaligus sumber bahan baku arang di masa depan. Ia juga berharap arang biomassa dapat menghidupkan kembali tradisi memasak lambat dengan bara arang yang mulai dilupakan masyarakat modern.

Berita terkait