Bagaimana Serangan 11 September 2001 Mempercepat Berakhirnya Hegemoni Amerika Serikat?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Serangan 11 September 2001 berakhirkan dekade hegemoni Amerika Serikat pasca-Perang Dingin yang hampir tak tertandingi. Menurut Fyodor Lukyanov dari Russia in Global Affairs, serangan tersebut menandai akhir dari periode di mana AS merasa tidak terancam oleh musuh geopolitik utama setelah kolapsnya Uni Soviet. Dua simbol kekuatan AS yang diserang — World Trade Center sebagai pusat keuangan dan Pentagon sebagai pusat militer — menegaskan pesan bahwa ancaman dapat muncul dari kelompok non-negara, bukan hanya negara musuh.
Reaksi pemerintah AS pasca-serangan, khususnya di bawah pimpuanan George W. Bush yang dipengaruhi pemikiran neokonservatif, didasarkan pada asumsi bahwa ancaman dapat berasal dari mana saja dan harus ditanggapi dengan kekuatan militer secara agresif. Hal ini memicu penataan ulang kebijakan global yang konsekuensinya masih terasa hingga kini. Lukyanov menekankan bahwa meskipun strategi jangka panjang Osama bin Laden tidak diketahui, dampaknya nyata: AS secara bertahap kehilangan kemampuan untuk mendominasi urusan internasional sebagaimana sebelumnya.
Sepanjang 25 tahun, signifikansi sebenarnya dari 11 September baru sepenuhnya terlihat. Bukan sekadar tragedi simbolis, tetapi titik balik dalam sejarah pasca-koldun, di mana klaim 'Akhir Sejarah' yang diusulkan Francis Fukuyama justru digantikan oleh kembalinya konflik dan ketidakpastian global yang lebih kompleks.
Bagikan
Berita terkait
Rupiah Hari Ini Ditutup Ambles ke Rp17.611 per Dolar AS, Intip Biang Keroknya
SINDOnews · 11 September 2026 pukul 18.10
Pertamina Ungkap Konflik Timur Tengah Lebih Pelik dari Rusia-Ukraina, Harga BBM Jadi Taruhan
Warta Ekonomi · 11 September 2026 pukul 17.56
Harga Minyak Dunia Melejit, Harga BBM Pertamax Diramal Bisa Rp20.000
CNBC Indonesia · 11 September 2026 pukul 17.40
Bank-bank Eropa Kompak Pindahkan Cadangan Emas dari AS, Ada Apa?
Detik.com · 11 September 2026 pukul 17.34