Berteman dengan Kecerdasan Buatan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kecerdasan buatan kini mampu melakukan berbagai tugas sebelumnya eksklusif bagi manusia, seperti menulis, menerjemahkan, membuat gambar, mengubah musik, merangkum teks, hingga mendukung penelitian dengan kecepatan luar biasa. Kemampuan ini membuka peluang besar, namun juga menimbulkan pertanyaan mendesak tentang apakah manusia akan menerima atau menolak teknologi tersebut. Tantangan utamanya tidak hanya pada penerimaan, tetapi pada kemampuan manusia untuk menentukan nilai, tujuan, dan tanggung jawab ketika mesin semakin menguasai bagian dalam kehidupan.
Artikel ini mengacu pada pengalaman budaya Indonesia, khususnya Rhoma Irama, yang menghadapi dilema serupa pada awal 1970-an terkait penerimaan radio dan televisi. Rhoma tidak menolak modernitas, tetapi justru memilih untuk tetap berada di dalamnya sambil memberikan arah moral pada media yang digunakan. Ia tetap berkarya musik, tampil di televisi, dan berkomunikasi dengan publik, sekaligus mempertahankan praktik keagamaan dan nilai Islam dalam setiap karyanya.
Pendekatan Rhoma memberi inspirasi konsep "musik bersih", di mana karya seni tidak boleh bebas dari tanggung jawab moral. "Bersih" di sini tidak berarti menentukan secara universal kualitas moral suatu karya, tetapi justru menolak gagasan bahwa seni boleh lepas dari nilai. Dengan demikian, kecerdasan buatan dapat diterima secara kritis, tanpa menyerahkan seluruh orientasi kehidupan manusia kepada mesin.
Bagikan
Berita terkait
BATIC 2026 Kukuhkan Indonesia sebagai Hub Kolaborasi Digital Asia Pasifik
Detik.com · 2 September 2026 pukul 16.55
Muncul Kekuatan Baru, Dunia Harus Siaga Penuh Hadapi Dampaknya
CNBC Indonesia · 2 September 2026 pukul 14.30
Nulis Prompt ChatGPT Mungkin Mesti Seperti Tony Stark Ngomong ke JARVIS
Detik.com · 2 September 2026 pukul 11.45
Hacker Makin Agresif Incar Pengguna HP, Indonesia Catat 15 Ribu Kasus
Detik.com · 2 September 2026 pukul 09.45