Jakarta · Rabu, 2 September 2026Cari
WargaKonoha

Berteman dengan Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan kini mampu melakukan berbagai tugas sebelumnya eksklusif bagi manusia, seperti menulis, menerjemahkan, membuat gambar, mengubah musik, merangkum teks, hingga mendukung penelitian dengan kecepatan luar biasa. Kemampuan ini membuka peluang besar, namun juga menimbulkan pertanyaan mendesak tentang apakah manusia akan menerima atau menolak teknologi tersebut. Tantangan utamanya tidak hanya pada penerimaan, tetapi pada kemampuan manusia untuk menentukan nilai, tujuan, dan tanggung jawab ketika mesin semakin menguasai bagian dalam kehidupan.

Artikel ini mengacu pada pengalaman budaya Indonesia, khususnya Rhoma Irama, yang menghadapi dilema serupa pada awal 1970-an terkait penerimaan radio dan televisi. Rhoma tidak menolak modernitas, tetapi justru memilih untuk tetap berada di dalamnya sambil memberikan arah moral pada media yang digunakan. Ia tetap berkarya musik, tampil di televisi, dan berkomunikasi dengan publik, sekaligus mempertahankan praktik keagamaan dan nilai Islam dalam setiap karyanya.

Pendekatan Rhoma memberi inspirasi konsep "musik bersih", di mana karya seni tidak boleh bebas dari tanggung jawab moral. "Bersih" di sini tidak berarti menentukan secara universal kualitas moral suatu karya, tetapi justru menolak gagasan bahwa seni boleh lepas dari nilai. Dengan demikian, kecerdasan buatan dapat diterima secara kritis, tanpa menyerahkan seluruh orientasi kehidupan manusia kepada mesin.

Berita terkait