BRICS Kian Tinggalkan Dolar AS, 65% Transaksi Gunakan Mata Uang Lokal
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Negara-negara anggota BRICS semakin mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan lintas batas. Menurut laporan yang dikutip dari Pradip Dhir, Direktur Pranan Consulting, hanya sekitar 35% perdagangan antarnegara BRICS yang masih menggunakan dolar AS, sementara 65% sisanya diselesaikan dengan mata uang lokal. Perubahan ini merupakan bagian dari agenda dedolarisasi yang semakin ditekankan sejak 2022, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menekan biaya transaksi ekspor-impor.
China dan Rusia menjadi contoh utama dalam penggunaan mata uang lokal untuk perdagangan bilateral, dengan intensif memanfaatkan yuan dan rubel sejak 2022, terutama dalam sektor energi dan komoditas. India juga menggabungkan rupee, rubel, dan dirham dalam transaksinya dengan anggota BRICS lainnya. Iran, yang menghadapi sanksi ekonomi dari AS, semakin banyak menggunakan yuan China dalam perdagangan internasionalnya.
Penggunaan mata uang lokal juga berkembang dalam perdagangan energi, seperti kasus Arab Saudi yang menerima yuan dalam transaksi minyak. Sejak 2024, China lebih agresif meningkatkan kesepakatan perdagangan berbasis mata uang lokal, yang diharapkan memperkuat posisi mata uang anggota BRICS dan mengurangi peran dolar AS dalam transaksi antarnegara anggota.
Bagikan
Berita terkait
China Pimpin BRICS 2027, Dedolarisasi Kembali Jadi Ancaman Dolar AS
SINDOnews · 28 September 2026 pukul 22.02
Buang Dolar AS, BRICS Siapkan Jalur Pembayaran Rahasia untuk Geser Dominasi Barat
SINDOnews · 10 September 2026 pukul 20.47
BRICS Selangkah Lagi 'Buang Dolar', Buat Mata Uang Baru
CNBC Indonesia · 10 September 2026 pukul 06.20
RI Dorong Transaksi Tanpa Dolar AS dalam Forum BRICS
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 07.25