Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Buang Air Kecil Terasa tak Tuntas? Waspadai Risiko Retensi Urine dan Kerusakan Ginjal

Rasa ingin buang air kecil kembali sesaat setelah selesai kencing, yang sering dianggap sepele, sebenarnya bisa menjadi tanda retensi urine — kondisi di mana kandung kemih tidak dapat mengosongkan urine secara penuh. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), retensi urine dapat terjadi secara akut atau kronis. Pada kasus kronis, seseorang masih bisa buang air kecil, tetapi sebagian urine tetap tersisa. Gejala utamanya meliputi rasa tidak tuntas setelah buang air kecil, frekuensi kencing yang sering namun dalam jumlah kecil, kesulitan memulai aliran urine, hingga aliran urine yang lemah atau tidak teratur. Jika tidak ditangani, retensi urine berisiko menimbulkan komplikasi serius. Urine yang tidak keluar dengan baik meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) karena bakteri lebih mudah berkembang di dalam cairan yang mengendap. Tekanan dari penumpukan urine juga dapat menyebabkan refluks urine ke ginjal, yang berpotensi menyebabkan pembengkakan dan kerusakan jaringan ginjal, hingga meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal. Selain it, kandung kemih yang terus-menerima tekanan berlebih dapat menyebabkan otot kandung kemih meregang dan kehilangan fungsinya secara bertahap. Penyebab retensi urine bervariasi, termasuk hambatan fisik seperti batu ginjal, tumor, atau prolap panggul, serta gangguan saraf yang mengatur kerja kandung kemih. Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan seperti pengukuran postvoid residual, tes laboratorium, pencitraan, urodinamik, hingga sistoskopi. Pada kasus retensi urine akut yang disertai nyeri hebat dan pembengkakan perut, segera mencari pertolongan medis karena kondisi ini merupakan darurat yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kandung kemih dan ginjal. Deteksi dini melalui konsultasi ke tenaga kesehatan penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Berita terkait