Cerita Stasiun Tawang yang Lahir dari Tanah Rawa
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322309/original/045993000_1786524785-WhatsApp_Image_2026-08-12_at_15.46.37.jpeg)
Stasiun Semarang Tawang, yang berdiri di utara Kota Lama Semarang, telah beroperasi lebih dari satu abad sejak diresmikan pada 1 Juni 1914. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda NIS di atas lahan rawa yang tanahnya labil, memerlukan proses padatan tanah berbulan-bulan menggunakan pelat beton sebelum konstruksi bangunan beton bertulang memanjang 168–175 meter dimulai. Dirancang oleh arsitek Sloth-Blauwboer, bangunan utama memiliki kubah persegi berlapis tembaga, hall bertiang empat yang mirip pendopo joglo, relief perunggu karya Willem Brouwer, serta jendela kubah yang berfungsi sebagai pencahayaan dan ventilasi. Pada masa kolonial, sayap kanan diperuntukkan kelas satu dan operasional, sedangkan sayap kiri untuk kelas dua dan tiga (pribumi).
Seiring waktu, fasilitas disesuaikan untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal: ruang customer service, loket, dan ATM dipindah ke samping hall, ruang tunggu zona 3 diperluas, dan hall utama menjadi zona 2 dengan check-in counter dan spot foto. Meski modernisasi berlanjut, karakter asli bangunan dijaga. Stasiun Tawang telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui SK Walikota 646/50/1992 dan SK Menbudpar PM.57/PW.007/MKP/2010, serta terdaftar di Registrasi Nasional Cagar Budaya nomor RNCB.20160711.02.001015, menjadikannya ikon sejarah Semarang.
Bagikan
Berita terkait
Prabowo Bakal Jajal Kereta Nusantara Explorer dari Semarang ke Batang
SINDOnews · 30 Juli 2026 pukul 10.30
Wajah Baru Stasiun Tawang, Diresmikan Prabowo Hari Ini
Liputan6.com · 30 Juli 2026 pukul 08.22
Kemenbud Pantau Aset Budaya Imbas Gempa NTT: Belum Ada Laporan Kerusakan
kumparan · 16 Agustus 2026 pukul 17.45
2 Insiden Kereta Tergelincir Terjadi di Inggris Dalam Sehari, 2 Orang Terluka
kumparan · 15 Agustus 2026 pukul 02.43