Dari Makan Tabungan, Terancam Makan Utang
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3147008/original/000611900_1591619911-20200608-Suasana-Jam-Pulang-Kantor-Pekerja-di-Jakarta-TALLO-6.jpg)
Ketidakpastian ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar, tingginya PHK, dan inflasi sedang memaksa kelas menengah Indonesia untuk menguras tabungan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyebut fenomena ini sebagai 'makan tabungan' yang berisiko 'makan utang'. Andjas, seorang pekerja Jakarta, mengaku sudah dua kali mengambil uang tabungannya untuk kebutuhan transportasi saat akhir bulan ketika budget habil. Di tengah kenaikan biaya hidup, ia mulai membatasi pengeluaran, bahkan memilih beli makanan jadi karena lebih murah dari bahan baku. Meski masih bisa menabung, nominalnya tidak sebesar dulu, dan ia khawatir jika situasi tidak membaik, akan mencari tambahan penghasilan seperti freelance atau berjualan di rumah. Sertain, seorang ibu rumah tangga, juga merasakan tekanan keuangan akibat biaya sekolah dua anaknya. Ia pernah beberapa kali mengambil tabungan untuk keperluan mendadak seperti sakit keluarga, namun tetap menyimpan dana darurat dan menghindari pinjaman atau kartu kredit. Kesehariannya, pengeluaran untuk makan dan belanja mingguan menjadi paling sulit ditekan, sehingga ia khawatir tabungan akan terus menipis dan berujung pada utang.
Bagikan
Berita terkait
Bukan Cuma Pelaku Lapangan, Komisi III DPR Dorong Polri Usut Dalang Karhutla
JawaPos · 24 Agustus 2026 pukul 10.00
Eksklusif, Ketua Umum Hippindo Budiharjo Iduansjah: Potensi Pasar Indonesia yang Besar Harus Dimanfaatkan
VOI · 24 Agustus 2026 pukul 10.00
Tailan Juara Srikandi Merdeka Cup 2026, Tatap Piala Dunia
Media Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 09.55
Prabowo Evaluasi Penanganan Karhutla dan Gempa
Media Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 09.54