Demokrasi Dinilai Terlalu Mahal, DPD Tawarkan Gagasan Green Democracy
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menyampaikan bahwa biaya demokrasi di Indonesia dinilai terlalu mahal dan perlu diperbaiki. Dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR serta DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus, ia menekankan bahwa demokrasi yang ada harus menjadi lebih efisien dan mampu melahirkan lebih banyak tokoh negara. Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tiga tantangan utama: demokrasi yang mahal, bonus demografi, dan ancaman perubahan iklim. Untuk menjawab tantangan-tantangan ini, DPD mengusulkan konsep Green Democracy yang menggabungkan pembangunan politik dengan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sultan menegaskan bahwa kemajuan saat ini tidak boleh menimbulkan beban lingkungan bagi generasi mendatang. Ia juga menyoroti pentingnya mengelola bonus demografi agar menjadi aset bagi Generasi Emas Indonesia 2045, bukan menjadi beban. DPD mendukung beberapa rancangan undang-undang terkait, seperti RUU Perubahan Iklim, RUU Masyarakat Adat, RUU Bahasa Daerah, RUU BUMD, dan perubahan UU Pemerintahan Daerah, sebagai bagian dari agenda legislasi DPD.
Bagikan
Berita terkait
22 Tahun DPD, Sultan: Kritik Masyarakat Jadi Pengingat untuk Terus Berbenah
Detik.com · 1 Oktober 2026 pukul 17.47
Ketua DPD RI Dorong Bali Jadi Pelopor Gerakan Pilah Sampah Nasional
JPNN.com · 25 September 2026 pukul 16.01
Ketua DPD Sambangi Kediaman Boediono, Sampaikan Undangan Sidang Bersama
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 11.57
Kantor DPD RI di Banten Mulai Dibangun, Sultan: Jadi Rumah Aspirasi Masyarakat
JPNN.com · 5 Agustus 2026 pukul 19.25