Jakarta · Selasa, 1 September 2026Cari
WargaKonoha

Demokrasi Kehilangan Makna Saat Rakyat Tak Berdaya

Kailash Satyarthi, penerima Nobel Perdamaian 2014, menyampaikan bahwa demokrasi kehilangan maknanya ketika rakyat tidak memiliki kekuatan untuk menuntut dan memperoleh hak-haknya. Dalam diskusi di Universitas Harkat Negeri Jakarta, ia menekankan bahwa prosedur pemilu dan konstitusi saja tidak cukup jika masyarakat tidak mampu memengaruhi kebijakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Satyarthi menggunakan contoh ibu tunggal yang tidak mampu memberi makan anaknya atau melindungi anak perempuannya dari eksploitasi, untuk menggambarkan betapa konsep demokrasi bisa terasa jauh dari realitas bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrim.

Satyarthi juga menyoroti ketidakmewakilan kelompok rentan seperti anak-anak, penyandang disabilitas, dan warga miskin dalam sistem demokrasi elektoral. Ia menceritakan pengalamannya bertemu seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun di Pakistan yang terpaksa menjahit bola sepak di kondisi sempit dan gelap, bahkan mengisap darahnya agar tidak menetes ke bola karena takut ditimpa hukuman. Pengalaman ini menjadi simbol bagi Satyarthi tentang bagaimana keberadaan hukum dan demokrasi tidak berguna jika negara gagal melindungi warganya secara nyata.

Di sisi lain, moderator diskusi Todung Mulya Lubis menilai demokrasi Indonesia dan India sedang mengalami kemundaran, ditandai dengan tekanan terhadap kampus, masyarakat sipil, dan media independen. Rektor UHN Sudirman Said menegaskan bahwa pemilu, parlemen, dan pengadilan adalah instrumen penting, tetapi bukan tujuan akhir. Ia berpendapat bahwa kampus harus berperan sebagai jembatan kolaborasi antara sektor bisnis, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk menjawab persoalan sosial yang kompleks. Satyarthi menutup dengan ajakan untuk mengglobalkan compassion—kepedulian aktif yang diwujudkan dalam tindakan nyata—sebagai kekuatan transformatif untuk mengubah sistem eksploitasi.

Berita terkait