Dilema Laksamana Maeda di Malam 17 Agustus
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/954204/original/080723800_1439430052-maeda3__kebudayaanindonesia.net_.jpg)
Pada 17 Agustus 1945, Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang di Jakarta, memberikan rumahnya untuk pertemuan Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo dalam merumuskan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Karena tidak ada mesin tik, Satsuki Mishima meminjamnya dari Kriegsmarine untuk mengetik naskah yang kemudian dibacakan di rumah Soekarno. Maeda, yang telah berkontak dengan tokoh pergerakan sejak era 1930-an, juga mendukung pembentukan Asrama Indonesia Merdeka. Setelah serangan Jepang menyerah, ia memberikan kediamannya sebagai tempat pertemuan kunci. Meski sebagai perwira Jepang harus menjaga status quo, Maeda memilih membantu proses kemerdekaan Indonesia. Ia ditangkap Sekutu 1946, menolak untuk mengakui Indonesia sebagai produk Jepang, dan kembali ke Jepang dengan kecaman. Pada 1973, Indonesia mengundangnya dan memberi Bintang Jasa Nararya. Maeda meninggal 1977, diakui sebagai tokoh yang mengorbankan diri demi kemerdekaan Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Teknologi Asli Indonesia Ini Bikin Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Menggema se-Nusantara
SINDOnews · 17 Agustus 2026 pukul 14.35
15 Srikandi Pasukan Polisi Militer Kawal Kirab Bendera Pusaka ke Istana
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 08.35
Fadli Zon Jelaskan Rekaman Proklamasi Sukarno Direkam Tahun 1951: Bukan Hari H
kumparan · 16 Agustus 2026 pukul 18.07
Jejak Naskah Proklamasi Tulisan Bung Karno Nyaris Masuk Tong Sampah
Liputan6.com · 15 Agustus 2026 pukul 06.01