Ekonomi Hijau dari Lebah Tanpa Sengat
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini membahas budidaya lebah tanpa sengat atau galo-galo sebagai jalan keluar ekonomi hijau yang selaras dengan kelestarian hutan. Lebah ini hanya produktif jika lingkungan menyediakan nektar, polen, dan resin dari beragam tumbuhan sepanjang tahun, sehingga petani yang membudidayakannya otomatis menjaga tegakan pohon tetap hidup. Dalam sistem agroforestri, galo-galo dipadukan dengan kopi, menghasilkan dua komoditas bernilai tinggi sekaligus: biji kopi dan madu. Lebah membantu penyerbukan, sedangkan tanaman kopi dan pohon peneduh menyediakan pakan bagi lebah.
Penulis bersama tim dosen dan mahasiswa Universitas Andalas mendampingi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Berkat Yakin di Nagari Palembayan, Kabupaten Agam. Dari lapangan, dua prinsip penting diterapkan: menyisakan sekitar 10 kantong madu setiap panen sebagai cadangan pangan koloni menjelang musim hujan, serta menguasai teknik memperbanyak koloni seperti kotak perangkap, pencangkokan, dan pemecahan koloni agar kelompok mandiri tanpa bergantung bibit dari luar.
Artikel ini juga merekomendasikan tiga kebijakan: menjadikan madu lebah tanpa sengat sebagai komoditas prioritas KUPS; mendekatkan sertifikasi mutu dengan memanfaatkan SNI 8664:2018 yang menetapkan batas kadar air 27,5 persen; serta mengubah pendampingan menjadi kurva belajar dengan skema pendanaan multitahun, bukan siklus anggaran tahunan.
Bagikan
Berita terkait
Eddy Soeparno: Ekonomi Karbon Harus Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru RI
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 14.17
Kadin Jabar Dorong Ekosistem Molinas Perkuat Industri Kendaraan Listrik
Warta Ekonomi · 15 Agustus 2026 pukul 13.38
Eddy Soeparno Puji Pidato Prabowo soal Pengembangan Ekonomi Karbon
Detik.com · 15 Agustus 2026 pukul 09.08
Eddy Soeparno Apresiasi Perhatian Prabowo Terhadap Ekonomi Karbon, Ini Harapannya
JPNN.com · 15 Agustus 2026 pukul 08.39