Dari Bank Penilai Risiko Menjadi Arsitek Ekonomi Hijau Daerah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank didorong bertransformasi dari sekadar penilai risiko menjadi arsitek ekosistem ekonomi hijau di daerah. Peran tradisional yang hanya berfokus pada agunan dan laporan keuangan dianggap tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan transisi energi dan pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Bank diharapkan mampu menghubungkan modal, teknologi, data, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk mengoptimalkan potensi lokal. Contoh implementasinya meliputi pengolahan sampah menjadi energi, pemasangan panel surya di pasar tradisional, serta modernisasi teknologi nelayan dan pertanian. Fokus utama adalah merancang skema pembiayaan yang sesuai dengan skala dan risiko usaha di lapangan guna membentuk rantai nilai ekonomi hijau yang dapat direplikasi.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 25 September 2026 pukul 14.55
Kembangkan Bisnis Bioenergi, PLN EPI Bidik 60,6 Juta Ton Potensi Biomassa
Berita terkait
Pembiayaan Bank Mega Syariah capai Rp10,38 triliun hingga Agustus 2026
ANTARA News · 22 September 2026 pukul 09.23
OJK Buka Suara soal Isu Gaji ASN Dipindah dari BPD ke Bank BUMN
Detik.com · 21 September 2026 pukul 21.25
Video: Jurus Pengusaha EBT Gaet Pembiayaan - Amankan Lahan Proyek PLTS
CNBC Indonesia · 20 September 2026 pukul 20.01
Purbaya Ungkap Rp195,2 Triliun Uang Pemda Masih Mengendap di Perbankan
Warta Ekonomi · 14 September 2026 pukul 14.22