Ekonomi Iran Tak Runtuh meski Diinvasi AS, Ini 4 Rahasianya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Meskipun menghadapi invasi AS dan perang selama lima bulan, ekonomi Iran belum runtuh. Jutaan warganya kesulitan mencari nafkah, tetapi negara berpenduduk 92 juta ini memiliki ekonomi domestik yang cukup terdiversifikasi. Pemerintah Iran selama beberapa dekade telah mengembangkan swasembada dalam menghadapi embargo dan konfrontasi dengan AS, Israel, serta Barat. Sektor pertanian, manufaktur, dan jasa telah mengurangi ketergantungan pada minyak, sementara transfer minyak ilegal, perdagangan lintas batas, jaringan maritim, dan pasar tenaga kerja informal membantu menjaga ketahanan ekonomi.
Ekonom Hadi Kahalzadeh mendefinisikan keruntuhan ekonomi sebagai kelaparan dan ketidakmampuan negara membayar pegawai serta menyediakan layanan dasar. Dalam pengertian itu, Iran belum mencapai titik keruntuhan. Namun, harga yang dibayar rakyat sangat tinggi. Inflasi mencapai sekitar 90 persen dengan salah satu tingkat inflasi pangan tertinggi di dunia. Harga bahan pokok seperti daging, telur, dan minyak goreng meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam setahun, sementara upah tertinggal jauh. Mata uang nasional terus merosot terhadap dolar AS, dan penutupan Selat Hormuz akibat perang AS-Israel menghambat pasokan baru.
Bagikan
Berita terkait
Perang Perparah Krisis Ekonomi Iran, Kelas Menengah Makin Terhimpit
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 18.23
Di Tengah Perang dan Embargo, Bagaimana Ekonomi Iran Tetap Bertahan?
SINDOnews · 30 Juli 2026 pukul 12.15
Ekonom: Pembatasan Pertalite Berpotensi Bebani Rumah Tangga
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 11.43
Ekonom: Pasar nantikan arah komunikasi BI pada RDG Agustus 2026
ANTARA News · 18 Agustus 2026 pukul 10.59