Jakarta · Selasa, 1 September 2026Cari
WargaKonoha

Ekonomi Politik NU dan Pesantren: Catatan Setelah Muktamar

Pada 1980-an, pesantren masih terbilang terbelakang, sejalan dengan kondisi masyarakat pedesaan secara umum. Pada masa itu, Dawam Rahardjo dan LP3ES mengusulkan gagasan riset advokasi pengembangan pesantren yang didukung oleh lembaga asing seperti FNS Jerman dan USAID. Ide utama riset tersebut adalah modernisasi pesantren dengan keyakinan bahwa jika pesantren berkembang, maka Indonesia akan menjadi lebih maju dan modern. Gus Dur pernah terlibat dalam riset ini, meskipun kemudian berpisah karena perbedaan pendapat.

Setengah abad setelah usaha modernisasi pesantren dimulai, banyak perubahan signifikan terjadi. Mobilitas vertikal masyarakat pesantren, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), berkembang pesat. Kelas menengah pesantren bertambah banyak, sementara jumlah kaum intelektual, doktor, dan guru besar dari kalangan pesantren juga meningkat tajam.

Meskipun demikian, masih ada bagian dari masyarakat pesantren yang tertinggal, dan ketimpangan sosial ekonomi relatif masih lebar. Pesantren yang dulu terpencil kini lebih terhubung dengan perkembangan nasional dan global, namun tantangan untuk mencapai kemajuan yang merata masih perlu dihadapi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait