Ekonomi Politik NU dan Pesantren: Catatan Setelah Muktamar
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pada 1980-an, pesantren masih terbilang terbelakang, sejalan dengan kondisi masyarakat pedesaan secara umum. Pada masa itu, Dawam Rahardjo dan LP3ES mengusulkan gagasan riset advokasi pengembangan pesantren yang didukung oleh lembaga asing seperti FNS Jerman dan USAID. Ide utama riset tersebut adalah modernisasi pesantren dengan keyakinan bahwa jika pesantren berkembang, maka Indonesia akan menjadi lebih maju dan modern. Gus Dur pernah terlibat dalam riset ini, meskipun kemudian berpisah karena perbedaan pendapat.
Setengah abad setelah usaha modernisasi pesantren dimulai, banyak perubahan signifikan terjadi. Mobilitas vertikal masyarakat pesantren, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), berkembang pesat. Kelas menengah pesantren bertambah banyak, sementara jumlah kaum intelektual, doktor, dan guru besar dari kalangan pesantren juga meningkat tajam.
Meskipun demikian, masih ada bagian dari masyarakat pesantren yang tertinggal, dan ketimpangan sosial ekonomi relatif masih lebar. Pesantren yang dulu terpencil kini lebih terhubung dengan perkembangan nasional dan global, namun tantangan untuk mencapai kemajuan yang merata masih perlu dihadapi.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 19.02
Infografis: Gus Kikin, Kiai Entrepreneur Jadi Ketum PBNU
JawaPos · 30 Agustus 2026 pukul 14.30
Baznas Buka Beasiswa Santri 2026 bagi 2.500 Santri Dhuafa Berprestasi
Berita terkait
Muktamar NU Jadi Momentum Hebitren Perkuat Ekonomi Pesantren lewat Peternakan
JPNN.com · 28 Agustus 2026 pukul 17.10
Gus Fahmi Sebut Gus Kikin Sosok Tepat Jadi Ketum PBNU
JPNN.com · 30 Agustus 2026 pukul 20.32
Hadir di AIIF 2026, DWC Perkenalkan Perangkat AI-Ready Buatan Lokal
JPNN.com · 29 Agustus 2026 pukul 23.07
Muktamar ke-35 NU Rekomendasikan Pemerintah Jalankan Putusan MK terkait Anggaran MBG
SINDOnews · 29 Agustus 2026 pukul 18.59