Eks PM Rusia: Putin Tahu Menginvasi Ukraina Itu Salah, tapi Nekat Lanjutkan Perang
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Mantan Perdana Menteri Rusia Mikhail Kasyanov mengungkapkan dalam wawancara dengan AFP bahwa Presiden Vladimir Putin sebenarnya menyadari kesalahan strategisnya dalam melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022. Namun, meskipun menyadari hal tersebut, Putin tetap memilih untuk melanjutkan konflik militer tersebut. Kasyanov menilai bahwa tekanan ekonomi dan rasa ketidakpuasan di kalangan masyarakat serta elit Rusia belum cukup untuk mendorong Putin untuk bernegosiasi. Menurutnya, Putin didorong oleh beberapa faktor, termasuk kenaikan harga minyak akibat konflik AS-Iran dan perbedaan pandangan antara Washington dan Eropa dalam menghadapi kebijakan Moskow. Kasyanov meyakini bahwa Putin yakin sedang memenangkan 'perang atrisi' melawan Ukraina dan tidak akan menghentikan serangan kecuali mendapatkan tekanan yang lebih kuat dari Barat.
Kasyanov juga memperingatkan bahwa musim dingin yang akan datang akan menjadi tantangan besar bagi Ukraina, terutama dengan meningkatnya serangan Rusia terhadat infrastruktur sipil. Ia mendesak negara-negara Barat untuk memberikan dukungan lebih, termasuk pasokan rudal pencegat Patriot, agar Ukraina dapat melindungi wilayya udaranya. Ia juga menekankan pentingnya persatuan dan tekanan psikologis dari Barat untuk mendorong Kremlin bertanggung jawab.
Sebagai mantan PM yang pernah menjabat pada 2000-2004, Kasyanov kini tinggal di pengasingan di Riga setelah meninggalkan Rusia pada 2022. Pemerintah Rusia pernah menetapkannya sebagai 'agen asing' pada 2023, istilah yang serupa dengan konsep Soviet-era 'musuh rakyat'.
Bagikan
Berita terkait
Prabowo Tegaskan Nonblok, Putin Soroti Posisi Strategis Indonesia
SINDOnews · 3 September 2026 pukul 17.55
Presiden Putin Ungkap Alasan Rusia Tidak Menyerang Pemimpin Politik dan Militer Ukraina
VOI · 2 September 2026 pukul 11.00
71% Warga AS Tidak Setuju Cara Trump Tangani Masalah Iran
SINDOnews · 2 Oktober 2026 pukul 14.35
Perang Ukraina Tak Kunjung Berakhir, Putin Perintahkan Rusia Tambah 15.500 Tentara
SINDOnews · 29 September 2026 pukul 12.08