Jakarta · Rabu, 30 September 2026Cari
WargaKonoha

Era Baru Negeri 1001 Malam: AS Angkat Kaki, Jalan Lapang Milisi Iran

Irak menandai berakhirnya kehadiran pasukan Amerika Serikat (AS) di wilayahnya setelah lebih dari dua dekade, dengan menetapkan empat hari sebagai 'Hari Kedaulatan'. Penarikan ini menandai keluarnya ratusan tentara AS yang selama ini bertindak sebagai penasihat dalam operasi koalisi melawan ISIL sejak 2015. Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah Irak di bawah Perdana Menteri Ali al-Zaidi untuk memperkuat kedaulatan nasional, termasuk rencana melucuti kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran paling lambat Juni 2027. Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA), al-Zaidi menyatakan bahwa pemerintah berupaya memastikan negara menjadi pengambil keputusan utama dalam masalah perang dan perdamaian, serta menjelaskan bahwa berakhirnya misi koalisi internasional akan membawa hubungan Irak dengan mitra strategisnya ke fase baru, yakni dari kerja sama militer menuju kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Mantan Duta Besar AS untuk Irak dan Kuwait, Douglas Silliman, menilai penarikan pasukan AS merupakan bagian dari strategi al-Zaidi untuk melemahkan secara politik kelompok-kelompok milisi berpengaruh, termasuk yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut selama ini menggunakan kehadiran militer asing sebagai alasan untuk mempertahankan senjata dan struktur komando mereka. Namun, langkah ini juga membuka risiko peningkatan pengaruh Iran di Irak dan potensi konflik domestik. Beberapa pejabat dan pakar, termasuk dari wilayah Kurdi, menyatakan kekhawatiran bahwa penarikan pasukan AS meninggalkan mereka rentan tanpa sistem pertahanan yang memadai, terutama menghadapi ancaman drone dan roket dari kelompok milisi pro-Iran.

Di sisi lain, pemerintah Irak telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengintegrasikan milisi ke dalam pasukan resmi, termasuk memperpanjang batas waktu pengalihan senjata ke tangan negara hingga Juni 2027. Sejumlah pakar menilai kemampuan pasukan keamanan Irak telah meningkat signifikan dalam menghadapi ISIL, namun kekurangan kemampuan pertahanan udara tetap menjadi kelemahan. Hubungan AS-Irak diperkirakan akan beralih dari kehadiran militer langsung ke kerja sama yang lebih tersembunyi, seperti intelijen, pelatihan, dan dukungan teknis, sebagai ujian bagi kemampuan negara-negara berdaulat untuk membangun kemitraan pasca-intervensi militer.

Berita terkait