Erupsi Gunung Anak Krakatau Sebar Sulfur Dioksida/SO2, Berbahaya?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah mengeluarkan gas sulfur dioksida (SO2) yang terdeteksi melalui citra satelit. Badan Geologi Kementerian ESDM memaparkan bahwa sebaran SO2 ditunjukkan dengan warna merah pada peta, namun warna tersebut merepresentasikan konsentrasi gas di lapisan atmosfer, bukan di permukaan yang langsung terhirup oleh masyarakat. Peta tersebut menggunakan satuan mg/m2 (massa per kolom udara), berbeda dengan ppm yang biasanya dipakai untuk mengukur kualitas udara di permukaan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 7 September 2026 pukul 22.07
Badan Geologi: Peta Merah SO2 Bukan Berarti Udara Jakarta Berbahaya
Detik.com · 7 September 2026 pukul 17.09
Aktivitas Anak Krakatau Masih Tinggi, Erupsi Bisa Terjadi Sewaktu-waktu
kumparan · 7 September 2026 pukul 16.17
Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau Masih Tinggi, Erupsi Bisa Terjadi Sewaktu-waktu
Warta Ekonomi · 7 September 2026 pukul 12.00
Gunung Anak Krakatau Meletus, Yusuf Dumdum Tunggu Konten Dedi Mulyadi
Berita terkait
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Selasa Pagi Ini
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 07.22
Erupsi Panjang Gunung Anak Krakatau Berakhir, Status Masih Siaga Level III
JawaPos · 7 September 2026 pukul 11.46
Erupsi Berakhir, Gunung Anak Krakatau Tetap Berstatus Siaga
SINDOnews · 7 September 2026 pukul 10.45
Badan Geologi: Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi
CNN Indonesia · 7 September 2026 pukul 09.48