Jakarta · Jumat, 11 September 2026Cari
WargaKonoha

Evolusi Ekonomi Tiongkok: Dari Bengkel Dunia Menjadi Penguasa Rantai Nilai Global

Tiongkok berada di jalur mencatat rekor surplus perdagangan baru tahun ini, termasuk dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa, meski negara-negara Barat berupaya membendung kekuatan industri Beijing melalui kebijakan tarif. Data menunjukkan strategi proteksionisme Barat seperti kebijakan tarif Trump dan tekanan pada sektor kendaraan listrik (EV) serta industri sepatu olahraga seperti Nike, tidak berhasil menghambat pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Nike mengalami penurunan nilai saham hingga tiga perempat dari puncaknya pada 2021 akibat persaingan dengan merek lokal seperti Anta dan Li-Ning.

Doktrin dual circulation yang digerakkan Beijing bertujuan mengurangi ketergantungan strategis pada rantai pasok asing. Tiongkok tidak mencari autarki, tetapi ingin warganya tidak bergantung pada merek dan teknologi Barat. Proses ini membutuhkan investasi besar dalam modal, teknologi, dan kekayaan intelektual, sehingga pemerintah memberikan subsidi massal dan kredit murah kepada perusahaan yang diproyeksikan menjadi juara nasional.

Perangkat pasok global kini beralih dari model lama yang dikendalikan perusahaan Barat seperti Nike dan raksasa otomotif, ke model baru yang lebih fleksibel dan dikendalikan penuh oleh perusahaan Tiongkok. Jika tren ini berlanjut, surplus perdagangan Tiongkok yang terus bertambah bukan hanya menandakan peningkatan ekspor, tetapi juga mengindikasikan bahwa rantai pasok Tiongkok (Sinochain) perlahan menggantikan dominasi perusahaan global Barat.

Berita terkait