Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Gang, Kota, dan Energi yang Menghidupinya

Susur Gang Samarinda adalah komunitas jalan kaki yang terbentuk secara organik pada masa pandemi Covid-19. Tanpa rencana formal, kelompok ini menjelajahi gang-gang kecil di Samarinda mulai dari Jalan KS Tubun, Bhayangkara, hingga Samarinda Kota. Awalnya berkumpul di daerah "Mexico" sekitar Jalan KS Tubun, jalur mereka kini meluas hingga ke wilayah Samarinda Ilir, Sungai Kunjang, dan Samarinda Seberang. Setiap Selasa dan Jumat, komunitas ini mengadakan jalan kaki terbuka yang diikuti belasan orang. Aktivitas ini tidak hanya eksplorasi, tetapi juga dokumentasi cerita kota yang tersembunyi di balik gang-gang sempit, seperti rumah tua bekas stasiun RRI, kolam pengendapan Perumdam, hingga kisah Hantu Anak Belanda. Melalui media sosial, mereka membagikan temuan dan persoalan kota, termasuk isu seperti Program Pro Bebaya.

Di balik jalan-jalan besar, gang-gang menyimpan kehidupan yang berbeda. Warga saling mengenal, anak-anak bermain, dan aroma masakan menguar di udara. Beberapa warga justru menghidupkan inovasi, seperti usaha keripik singkong dari lokasi yang dulunya rawa, atau rumah yang dikelilingi kuburan yang dikelola dengan energi surya. Namun, banyak cerita dan kegiatan ini tak terlihat jika hanya lewat lewat jalan raya.

Menurut Windasari, mahasiswi Kesmas Unmul, berjalan kaki justru mengingatkan kita pada energi alami yang ada di gang-gang, seperti penggunaan kayu bakar, biomassa, atau angin. Namun, makna energi semakin sempit hingga hanya pada listrik dan BBM. Dengan jumlah kendaraan roda dua di Samarinda (993.224 unit) melebihi jumlah penduduk (881.225 jiwa), transportasi privat mendominasi. Komunitas ini menekankan pentingnya jalan kaki sebagai langkah awal transisi energi, sebelum berpindah ke transportasi massal.

Berita terkait