Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Indonesia Menuju Bencana Sampah

Indonesia menghasilkan 27-34 juta ton sampah per tahun berdasarkan laporan kabupaten/kota, namun estimasi sebenarnya mencapai 56-70 juta ton atau 76.000-140.000 ton per hari. Sampah organik mendominasi dengan 40-50%, diiku sampah plastik 18-19%, kayu 11-12%, dan kertas 11%. TPA yang menggunakan sistem open dumping mengalami kelebihan kapasitas, menciptakan risiko lingkungan dan keselamatan. Proses dekomposisi sampah organik di TPA menghasilkan gas metana, gas rumah kaca dengan kemampuan pemanas jauh lebih kuat daripada CO2. Simulasi WALHI menggunakan metode IPCC menunjukkan emisi metana Indonesia akan naik dari 142.923 ton CH4 (3,8 juta ton CO2) pada 2022 menjadi 334.109 ton CH4 (9,02 juta ton CO2) pada 2025. Fenomena ini terjadi karena akumulasi sampah organik selama bertahun-tahun yang terus mengalami dekomposisi anaerobik. Gunungan sampah puluhan meter menciptakan kondisi anaerobik ideal untuk bakteri metanogenik, menyebabkan produksi metana terus-menerus. Akibatnya termasuk risiko ledakan dan kebakaran di TPA, potensi longsor seperti tragedi TPA Bantargekar dan Cipayung, serta dampak kesehatan dari asap beracun. Krisis sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas TPA; solusi harus fokus pada pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, daur ulang, dan tanggung jawab produsen. BRIN sedang mengembangkan teknologi pemanenan gas metana untuk bahan bakar dan listrik. Pemerintah menegaskan tidak akan menutup TPA tetapi akan menghentikan open dumping. WALHI juga mendesak pemerintah mencabut izin korporasi yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, dengan 70% hotspot karhutla berada di wilayah konsesi perusahaan.

Berita terkait