Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Jelang Pertemuan AS-China, Negara Kekuatan Tengah Bersiasat

Pekan lalu, para pelaku bisnis Jerman dan China bertemu dalam dialog ekonomi di Dusseldorf, Jerman, dengan fokus pada perdagangan dan investasi antar keduanya. Namun, persaingan strategis antara AS dan China tetap menjadi sorotan, terutama menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Pertemuan ini diharapkan membantu meredakan konflik perang dagang yang diluncurkan Trump, meski hasilnya belum pasti. Para ahli mencatat kedua belah pihak berada dalam situasi kebuntuan strategis, di mana AS dan China saling membatasi gerak satu sama lain. Di bidang teknologi, persaingan krusial terjadi di sektor kecerdasan buatan (AI), dengan AS melarang ekspor cip ke China dan China membatasi ekspor unsur tanah jarang ke AS. Kedua negara sedang membahas mekanisme pemberitahuan untuk insiden keamanan AI.

Untuk Eropa, China dan AS kini sama-sama menjadi mitra yang sulit dikelola. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyoroti dampak kedua 'guncangan China' terhadap industri Eropa, terutama dalam sektor baterai, energi hijau, dan transportasi. Uni Eropa menargetkan transisi cepat ke kendaraan listrik namun khawatir keunggulan China di sektor ini dapat menimbulkan ketidakadilan kompetitif. Produsen Jerman seperti Volkswagen dan BMW menentang tarif tambahan atas mobil listrik China karena khawatir pada konsekuensi balasan dagang.

Di tengah ketegangan ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney berupaya memperluas kemitraan internasional, termasuk dengan menurunkan tarif impor mobil listrik China dari 100% menjadi 6,1%. China juga aktif mendekatkan hubungan dengan sekutu-sekutu AS yang hubungannya terasa rapuh, sebagai bagian dari strategi diplomasi 'geometri variabel'. Carney menekankan pentingnya kerja sama di antar negara berkekuatan menengah untuk meningkatkan posisi tawar dalam perundingan global.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait