Jika Tuhan Ada, Mengapa Penderitaan Merajalela?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel membahas pertanyaan teodise: mengapa penderitaan ada bila Tuhan Mahakuasa dan MahaPenyayang. Filsuf Yunani Epicurus mengajukan teka-teki logika: jika Tuhan ingin mencegah kejahatan tetapi tidak bisa, berarti tidak Mahakuasa; jika bisa tetapi tidak bersedia, tidak MahaPenyayang; jika bisa dan bersedia, mengapa penderitaan ada. Teodise dikembangkan Leibniz dengan argumen dunia merupakan kombinasi terbaik. Santo Augustinus menyatakan kejahatan sebagai privatio boni (hilangnya kebaikan) akibat penyalahgunaan kehendak bebas manusia. Plantinga menambah bahwa kebebasan memilih antara baik dan jahat memberi nilai intrinsik lebih mulia daripada dunia tanpa kesalahan. Irenaeus dan John Hick menggambarkan bumi sebagai bengkel pembentukan jiwa melalui rasa sakit dan rintangan. Dalam tradisi Islam, Mu'tazilah mengajarkan kompensasi di akhirat, sementara Asy'ariyah menekankan kekuasaan mutlak Tuhan di atas keadilan rasional. Ibn Sina dan Mulla Sadra menjelaskan penderitaan sebagai residu materi, bukan tujuan penciptaan. Semua pandangan sepakat penderitaan bukan entitas mandiri yang disengaja Tuhan sebagai tujuan akhir.
Bagikan
Berita terkait
Kritik Hasil Muktamar ke-35 NU, Gus Lilur: Mereka Bukan Menang, Tapi Dimenangkan
JawaPos · 31 Agustus 2026 pukul 22.15
Timnas Basket Keok dari Malaysia, Perbasi Janji Berbenah Menjelang Asian Games 2026
JPNN.com · 31 Agustus 2026 pukul 22.14
Pertamina Memperluas Peluang Bisnis Rendah Karbon Lewat Pengembangan Ekosistem Baterai
JPNN.com · 31 Agustus 2026 pukul 22.13
Harga Lenovo Legion Pro 7i, Laptop Gaming dengan Sistem Pendingin Cerdas
Media Indonesia · 31 Agustus 2026 pukul 22.13