Jokowi Bicara Pemimpin Harus Pahami Rakyat, Pengamat: Kontradiksi dengan 10 Tahun Kepemimpinannya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pernyataan dalam Penang Peace Dialogue di George Town, Pulau Pinang, Malaysia, bahwa seorang pemimpin harus memahami rakyat yang dipimpinnya, bukan sekadar strategi dan kekuasaan, demi menciptakan perdamaian. Acara tersebut berlangsung pada 5-6 September 2026, dengan Jokowi hadir dalam gala dinner pembuka pada Sabtu malam (5/9/2026).
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai pernyataan Jokowi terkesan kontradiksi dengan kinerjanya selama 10 tahun memimpin Indonesia. Menurutnya, banyak kelompok kritis, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat sipil yang menilai Jokowi tidak memahami rakyatnya.
Jamiluddin menyampaikan penilaian ini didasarkan pada beberapa faktor, termasuk kebijakan ekonomi yang dinilai elitis dan mengabaikan partisipasi publik. Sebagai contoh, ia mengingatkan pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) yang menuai gelombang protes besar dari kaum buruh dan mahasiswa.
Bagikan
Berita terkait
Jokowi Sindir Pihak Suka Salah Gunakan Kekuasaan, PDIP: Sedang Menasihati Dirinya Sendiri?
Warta Ekonomi · 2 September 2026 pukul 07.32
Denny Indrayana Sentil Andi Azwan: Apa Motif Anda Selalu Memuja Jokowi dan Gibran?
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 13.35
Kritik Projo, Ongen Sebut Mirip Kabinet Bayangan Feri Amsari Cs
JPNN.com · 26 Agustus 2026 pukul 11.36
Prabowo-Jokowi-Gibran Tampil Harmonis, Positif bagi Pemerintah
JPNN.com · 21 Agustus 2026 pukul 08.00