Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kabar Kabur Suntik Mati PLTU

Warga Desa Jelawe, Suralaya, Banten, hidup dalam keadaangan asap dan debu batu bara selama lebih dari 34 tahun akibat kedekatan rumah mereka dengan PLTU Suralaya. Linda, seorang warga, mengaku debu batu bara menempel di perabot rumah tangganya, dan banyak warga menderita penyakit kulit, pernapasan, hingga kanker. Pada musim panas 2024, kondisi semakin buruk akibat kekeringan yang diduga disebabkan penyedotan air besar-besaran oleh unit baru PLTU yang ditambah dua unit dengan kapasitas 2.000 MW pada 2020. Warga pun terpaksa menggunakan air sungai tercemar untuk keperluan sehari-hari.

Pemerintah Indonesia tengah mengevaluasi rencana pensiun dini PLTU batu bara yang sebelumnya ditargetkan selesai pada 2040. Perang Iran-AS dan ketergantungan energi global menjadi faktor yang mempengaruhi keputusan ini. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa pensiun dini PLTU hanya dapat dilaksanakan jika tersedia pendanaan yang memadai. Pendanaan dari ADB untuk pensiun PLTU Cirebon-1 sebesar USD 4,2 miliar sempat dialokasikan namun dibatalkan karena teknologi PLTU masih baru dan menjadi beban utang negara.

Sebaliknya, pemerintah berencana menambah kapasitas PLTU batu bara sebesar 6,3 GW dalam RUPTL 2025-2034, yang bertentangan dengan komitmen energi bersih. Studi dari Celios dan CREA menunjukkan bahwa operasional 20 PLTU menyebabkan 89.000 kematian pada 2020-2025, dan proyeksi kematian akan mencapai 97.000 hingga 245.000 orang hingga 2050. Dampak ekonomi pula besar, dengan kerugian sebesar Rp 650-1.630 triliun pada 2020-2025, dan diperkirakan meningkat hingga Rp 2.830 triliun pada 2026-2050.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait