Ketegangan Memuncak Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ketegangan dagang antara AS dan China semakin memuncak menjelang rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Negosiasi dagriah keduanya belum menghasilkan hasil nyata, meskipun Trump pernah melakukan kunjungan ke Beijing pada Mei lalu. Konflik ini tidak hanya melibatkan impor-ekspor, tetapi juga berdampak pada dinamika politik global. Para pengusaha Jerman dan China yang berkumpul di Düsseldorf merasakan kebingungan akibat ketidakpastian dalam perundingan dagang. Perekonomian China yang melemah menjadi perhatian utama, sementara regulasi pasar AS dan UE yang ketat menambah kompleksitas kerja sama ekonomi. Isu mobilitas listrik menjadi titik sengketa, dengan UE dan AS mencurigai adanya subsidi pemerintah China yang memberi keunggulan kompetitif. Produsen mobil Jerman seperti VW, BMW, dan Mercedes menolak kenaikan tarif ini karena khawatir akan penurunan penjualan akibat retaliation dari China.
Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan komitmen UE untuk menyeimbangkan defisit perdagangan dengan China yang mencapai sekitar satu miliar euro per hari. Von der Leyen juga menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada bahan baku kritis dari China. AS sendiri lebih tegas, dengan Trump menyatakan kebijakan "nol mobil listrik China" dan menerapkan tarif hingga 150 persen. Posisinya mendorong UE untuk mencari keseimbangan antara kemitraan dengan AS dan China, yang mana-mana dianggap sebagai mitra yang sulit.
Beijing dan Washington saling bersaing di berbagai sektor, termasuk teknologi tinggi, akal imajinatif (AI), dan misi luar angkasa. China membatasi ekspor logam tanah jarang, sementara AS melarang ekspor cip berkualitas tinggi ke China. Diplomasi baru muncul dengan konsep "geometri variabel", di mana negara-negara seperti Kanada dan UE mencari kebijakan yang lebih fleksibel. Kanada baru saja menurunkan tarif impor mobil listrik China dan menggencarkan kemitraan strategis dengan Beijing, sementara menolak kemungkinan keanggotaan EU yang dianggap "konyol" oleh Trump. Menjelang KTT G-20 di China pada November,Xi Jinping berupaya memanfaatkan partisipasinya untuk memperoleh keuntungan geopolitik, sementara Trump ingin menunjukkan tanggung jawabnya sebelum pemilihan sela.
Bagikan
Berita terkait
APBD Jakarta Dipangkas Rp1,76 Triliun, Rano Karno Harap Ekonomi Jakarta Tetap Tumbuh
Warta Ekonomi · 22 September 2026 pukul 20.40
Remitansi Pekerja Migran Indonesia Tembus Rp 288,1 Triliun
Liputan6.com · 22 September 2026 pukul 20.15
Pengusaha Tekstil Merapat! Prabowo Mau Kasih Insentif: Tax Holiday-PPN
CNBC Indonesia · 22 September 2026 pukul 20.05
Perbankan Diminta Kucurkan Pinjaman ke Industri Tekstil untuk Perbaikan Mesin
kumparan · 22 September 2026 pukul 19.30