Ketepatan Mitigasi Dibutuhkan saat El Nino Menguji Ketahanan Produksi Padi Antarwilayah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah pencapaian swasembada beras Indonesia pada 2025, GREAT Institute menegaskan bahwa ancaman El Niño yang kini berada pada kategori sangat kuat perlu diwaspadai karena berpotensi menurunkan produksi padi hingga awal 2027. Laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026 menilai posisi pangan nasional saat ini lebih kuat dibandingkan episode El Niño 2023–2024, namun angka agregat nasional dapat menyembunyikan kerentanan yang bervariasi antarwilayah.
Data BPS mencatat produksi beras nasional 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, melampaui proyeksi kebutuhan domestik Bapanas sebesar 31,2 juta ton, sehingga terbentuk surplus lebih dari 3,5 juta ton. Pemerintah tidak melakukan impor beras umum pada 2025 dan masih berencana tidak melakukannya pada 2026. Surplus ini memberi pemerintah ruang gerak yang lebih baik dibandingkan El Niño sebelumnya, namun kata ekonom GREAT Institute Hastuti, ketepatan mitigasi produksi padi tetap penting untuk menghadapi dampak kekeringan yang berbeda di setiap wilayah.
Analisis GREAT Institute pada El Niño 2023–2024 menunjukkan enam provinsi mengalami kontraksi produksi melebihi 10 persen, yakni Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Maluku, dan Maluku Utara. Penurunan produksi di wilayah-wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh penurunan luas panen dibandingkan penurunan produktivitas per hektare.
Bagikan
Berita terkait
Momen Prabowo Pamer RI Swasembada Pangan Bak Kilat, Cuma 1 Tahun
CNBC Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 10.25
Waspada El Nino Menguat, Pemerintah Diminta Serius Tangani Dampak Kekeringan
JPNN.com · 5 Agustus 2026 pukul 03.50
Suhu Neraka Godzilla El Nino Sasar RI, Begini Cara Amran Amankan Beras
CNBC Indonesia · 28 Juli 2026 pukul 16.20
Sumber Kehidupan IKN Terancam, BMKG Turun Tangan Lakukan Ini
CNBC Indonesia · 31 Agustus 2026 pukul 15.10