Komunikasi Digital dan Sacredness of Life: Ketika Martabat Manusia Terabaikan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini membahas konsep Sacredness of Life dari Profesor Clifford G. Christians, dosen University of Illinois, sebagai nilai moral universal yang menjadi fondasi komunikasi etis. Nilai ini menegaskan bahwa setiap kehidupan manusia memiliki martabat yang layak dihormati, terlepas dari perbedaan budaya, agama, atau sistem politik. Namun di era media sosial, prinsip ini semakin sering diuji karena budaya berkomentar spontan kerap mengabaikan martabat manusia. Contohnya adalah kasus seorang perempuan lanjut usia yang berjualan lewat siaran langsung dan menerima komentar menghina seperti "Nenek kapan mati?". Komentar tersebut bukan sekadar tidak sopan, melainkan melanggar prinsip etika fundamental karena menyerang keberadaan orang sebagai manusia, bukan membahas produk atau kualitas siaran. Pandangan serupa disampaikan Richard L. Johannesen dari Northern Illinois University, yang menyatakan komunikasi etis seharusnya mendukung kemampuan individu untuk berpikir, berargumen, dan membuat pilihan secara bebas dan bertanggung jawab. Artikel ini menekankan bahwa setiap kata dalam komunikasi membawa konsekuensi moral karena selalu ditujukan kepada sesama manusia yang memiliki martabat.", "tags": ["etika komunikasi", "media sosial", "martabat manusia", "sacredness of life", "komentar hinaan"]
Bagikan
Berita terkait
Gus Lilur Kritik Dugaan Peredaran Uang Rp 401 Miliar di Muktamar ke-35 NU
JawaPos · 27 September 2026 pukul 22.15
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penanganan Kecelakaan Mobil Tangki di Tol Jagorawi Sesuai Prosedur
SINDOnews · 27 September 2026 pukul 22.06
Koalisi Sipil Minta Kemenhan Setop Wajibkan ASN Ikut Komcad
CNN Indonesia · 27 September 2026 pukul 22.00
Funflation' Melanda AS, Hobi Warga Makin Mahal
CNBC Indonesia · 27 September 2026 pukul 22.00