Limbah Pasir Kucing Sulit Terurai, Mahasiswa UGM Bikin Inovasi Baru dari Ampas Tebu
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi pasir kucing berbahan dasar ampas tebu sebagai alternatif ramah lingkungan dari pasir pasir bentonite konvensional yang sulit terurai dan berdebu. Inovasi ini dikembangkan oleh Tim Felyhart yang terdiri dari lima mahasiswa lintas fakultas, termasuk dari Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Sekolah Vokasi UGM. Produk ini mendapat dukungan dari sistem pemantauan kesehatan digital untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaannya. Penggunaan ampas tebu sebagai bahan baku tidak hanya mengurangi limbah pertanian yang belum termanfaatkan, tetapi juga menurunkan biaya produksi dibandingkan pasir kucing komersial lainnya. Pasir Felyhart juga ditambahkan dengan natrium propionat untuk mencegah pertumbuhan mikroba dan mengurangi risiko penyakit. Inovasi ini merespons tantangan lingkungan akibat meningkatnya populasi kucing peliharaan dan limbah pasir sintetis yang sulit terurai.
Bagikan
Berita terkait
Kurangi Limbah hingga Jaga Ekosistem, Inovasi DSLNG Raih Tujuh Penghargaan EPSA 2026
Warta Ekonomi · 1 September 2026 pukul 18.00
Alan, Warga Subang Kembangkan Daun Nanas Menjadi Eco Fashion
Media Indonesia · 31 Agustus 2026 pukul 19.26
Ini Sederet Tantangan yang Hambat Bisnis Hijau
Detik.com · 27 Agustus 2026 pukul 18.43
Wali Kota Bekasi Targetkan PSEL Bantargebang Jadi Kawasan Inovasi Lingkungan
Media Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 17.48