Manusia Cukup Akurat Prediksi Kematian tapi Sering Remehkan Usia Harapan Hidup
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Studi selama 28 tahun yang memantau sekitar 2.000 orang dewasalansia di Jepang menemukan bahwa kemampuan manusia memprediksi kematian cukup akurat, namun mayoritas cenderung meremehkan usia harapan hidup sendiri. Sekitar 59 persen partisipan justru hidup lebih lama dari perkiraan yang mereka berikan. Harapan hidup subjektif (SLE) memiliki korelasi positif dengan usia harapan hidup aktual (ALE), meskipun hubungan ini bersifat inelastis dan tidak sepenuhnya akurat.
Temuan ini menunjukkan bahwa ekspektasi seseorang tentang panjang hidupnya memengaruhi keputusan keuangan penting seperti perencanaan pensiun dan tabungan. Jika seseorang meremehkan usia harapan hidupnya, hal ini dapat menyebabkan kekurangan dana di masa depan karena hidup lebih lama dari perencanaan yang ada. Para peneliti menyarankan agar informasi rata-rata sisa harapan hidup berdasarkan usia dan jenis kelamin dapat membantu individu mengembangkan ekspektasi yang lebih realistis.
Studi ini juga menekankan bahwa ekspektasi tentang umur panjang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga memiliki dampak signifikan pada keputusan ekonomi jangka panjang. Dengan data yang lebih personal dan akurat, individu dapat membuat keputusan keuangan yang lebih baik untuk menghindari risiko kekurangan dana di masa tua.
Bagikan
Berita terkait
Studi Jepang Soroti Perubahan Kualitas Udara Dipengaruhi Produk Tembakau yang Dipanaskan
JPNN.com · 8 September 2026 pukul 06.35
Punya Gaji UMP, Lebih Baik Kontrak atau Ambil KPR?
Liputan6.com · 6 September 2026 pukul 07.00
Orang Kaya RI Makin Banyak, Ini Prospek Asuransi Berbasis USD
CNBC Indonesia · 4 September 2026 pukul 18.10
Kemenkeu Siapkan Sistem untuk Estimasi Dampak Fiskal Akibat Bencana
JPNN.com · 1 September 2026 pukul 11.15