Membaca Muktamar NU dari Perspektif Neuropolitik: Antara Trust dan Obedience
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 telah selesai dengan KH Miftachul Akhyar terpilih kembali sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031. Menurut Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa), analis neuropolitik, fokus utama tidak pada siapa yang memegang kekuasaan, tetapi bagaimana cara jutaan warga NU memahami dan mempercayai keputusan tersebut. Politik, menurutnya, bekerja jauh sebelum pemilu atau pencoblosan, yaitu melalui pembentukan persepsi, penanaman rasa takut, dan penguatan identitas. Dalam jaringan pesantren NU, kepercayaan (trust) berperan penting karena manusia tidak mungkin memverifikasi seluruh informasi yang diterima, sehingga mereka melakukan cognitive outsourcing kepada tokoh yang dianggap lebih berpengalaman atau bermoral seperti kiai. Namun, masalah muncul ketika trust beralih menjadi obedience (ketaatan) berlebihan, yang menutup ruang untuk bertanya dan menggantikan argumentasi dengan otoritas atau simbol agama. Dalam pemilihan Ketua Umum, 552 pemilik suara menentukan mekanisme, dengan 401 suara mendukung perubahan ke sistem AHWA dan 150 mempertahankan sistem lama. Meskipun perubahan memiliki legitimasi prosedural, prosesnya menimbulkan kekhawatiran akan penggunaan simbol agama dan nama besar dalam pengambilan keputusan.
Bagikan
Berita terkait
Muktamar NU ke-35: saatnya Pesantren Jadi Kompas Hadapi Perubahan Zaman
Media Indonesia · 29 Agustus 2026 pukul 21.29
Dapat Restu Keluarga Besar KH Bishri, Gus Salam Siap Jadi Ketum PBNU Periode 2026-2031
SINDOnews · 10 Agustus 2026 pukul 18.09
Gus Salam Bersilaturahmi dengan Fungsionaris NU di NTB
JPNN.com · 2 Agustus 2026 pukul 15.02
Mini Soccer Asparagus Jadi Miniatur Muktamar NU, Ratusan Gus Gaungkan Sportivitas
SINDOnews · 29 Juli 2026 pukul 14.11