Jakarta · Sabtu, 29 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Muktamar NU ke-35: saatnya Pesantren Jadi Kompas Hadapi Perubahan Zaman

Muktamar Nahdlul Ulama (NU) ke-35 digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga menentukan arah organisasi menghadapi tantangan modern seperti transformasi digital, perubahan dunia kerja, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Sehari sebelum pembukaan, sejumlah kiai sepuh di Lirboyo, Kediri, menekankan pentingnya proses yang bermartabat, demokratis, dan bebas dari tekanan agar nilai-nilai NU seperti persaudaraan dan tradisi pesantren tetap terjaga.

Menuruh Saifullah Isri dari Pemerhati Pendidikan dan Transformasi Sosial, pesantren harus menjadi kompas moral di tengah tren teknologi. Ia menekankan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab, tetapi juga belajar adab. Dengan tradisi keilmuan, sanad, talaqqi, dan tabayyun, pesantren mampu menyeimbangkan inovasi AI yang menghasilkan informasi, namun tidak kebijaksanaan. NU perlu mempersiapkan generasi muda yang aktif di platform digital sekaligus tetap melekat pada akar tradisinya.

Gus Fauzi Mahendra, sebagai Tokoh Millenial PBNU, menegaskan bahwa generasi muda NU menanti konkretnya kontribusi organisasi terhadap isu pendidikan, lapangan kerja, ekonomi digital, dan hoaks. Ia juga menyerukan rekonsiliasi pasca-Muktamar agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik. Muktamar NU ke-35 diharapkan melahirkan bukan hanya pemimpin baru, tetapi juga energi dan arah baru bagi organisasi menuju Indonesia 2045. Menteri Agama Nasaruddin Umar dikabarkan tidak ikut bersaing demi fokus pada amanah Presiden Prabowo.

Berita terkait