Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Membaca Posisi Arab Saudi Sebagai ''New Regional Power''

Arab Saudi terus mengonsolidasikan diri sebagai kekuatan geoekonomi dan geopolitik baru di kawasan melalui Visi 2030 yang diluncurkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada 2016. Program ini awalnya bertujuan mengurangi ketergantungan pada minyak, namun berkembang menjadi visi geopolitik strategis yang mencakup diversifikasi ekonomi, pembangunan infrastruktur, pariwisata, teknologi, dan keuangan. Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi kini menempati peringkat kelima dana kekayaan negara terbesar dunia dengan aset US$1,15 triliun, termasuk akuisisi Electronic Arts senilai US$55 miliar. Kerja sama nuklir damai dengan AS serta perjanjian pertahanan trilateral 'Mecca Agreement' dengan Turki dan Pakistan memperkuat posisi strategisnya.

Dari sisi geopolitik, Arab Saudi mengadopsi strategi multi-alignment atau penyeimbang, membangun hubungan simultan dengan AS, China, Rusia, Turki, dan Pakistan tanpa terikat satu aliansi tunggal. Normalisasi hubungan dengan Iran pada 2023 melalui mediasi China dan sikap bijaksana selama ketegangan Israel-AS-Iran menunjukkan Riyadh mengutamakan diplomasi dan stabilitas kawasan di atas konfrontasi militer. Dengan kombinasi soft power, economic statecraft, dan deterrence, Arab Saudi bertransformasi dari sekadar produsen minyak menjadi penyeimbang kekuatan regional yang aktif membentuk arsitektur keamanan, diplomasi, dan ekonomi kawasan.

Berita terkait