Membaca Posisi Arab Saudi Sebagai ''New Regional Power''
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Arab Saudi terus mengonsolidasikan diri sebagai kekuatan geoekonomi dan geopolitik baru di kawasan melalui Visi 2030 yang diluncurkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada 2016. Program ini awalnya bertujuan mengurangi ketergantungan pada minyak, namun berkembang menjadi visi geopolitik strategis yang mencakup diversifikasi ekonomi, pembangunan infrastruktur, pariwisata, teknologi, dan keuangan. Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi kini menempati peringkat kelima dana kekayaan negara terbesar dunia dengan aset US$1,15 triliun, termasuk akuisisi Electronic Arts senilai US$55 miliar. Kerja sama nuklir damai dengan AS serta perjanjian pertahanan trilateral 'Mecca Agreement' dengan Turki dan Pakistan memperkuat posisi strategisnya.
Dari sisi geopolitik, Arab Saudi mengadopsi strategi multi-alignment atau penyeimbang, membangun hubungan simultan dengan AS, China, Rusia, Turki, dan Pakistan tanpa terikat satu aliansi tunggal. Normalisasi hubungan dengan Iran pada 2023 melalui mediasi China dan sikap bijaksana selama ketegangan Israel-AS-Iran menunjukkan Riyadh mengutamakan diplomasi dan stabilitas kawasan di atas konfrontasi militer. Dengan kombinasi soft power, economic statecraft, dan deterrence, Arab Saudi bertransformasi dari sekadar produsen minyak menjadi penyeimbang kekuatan regional yang aktif membentuk arsitektur keamanan, diplomasi, dan ekonomi kawasan.
Bagikan
Berita terkait
Gertak Balik AS, Iran Minta Trump Berhenti Berkhayal Kuasai Selat Hormuz
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 07.53
Sempat Serang Irak, Menhan Arab Saudi Kini Sebut 'Tetangga Tercinta'
Detik.com · 14 Agustus 2026 pukul 02.12
Ali Masykur Musa Dorong NU Jadi Kekuatan Soft Diplomacy Dunia
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 12.32
Harga Minyak Hari Ini Melambung Imbas Ketidakpastian Pembukaan Selat Hormuz
Liputan6.com · 10 Agustus 2026 pukul 08.10