Jakarta · Sabtu, 19 September 2026Cari
WargaKonoha

Membuat Risiko Bencana Lebih Terlihat dengan Komunikasi Visual

Artikel ini membahas tentang keberulangan bencana di Indonesia, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang terjadi setiap tahun tanpa penanganan yang signifikan. Penulis, seorang dosen desain komunikasi visual, mengamati bahwa masyarakat selalu menunggu hujan untuk memadamkan kebakaran, sementara upaya pemerintah seperti semprotan manual, penerjun payung, dan penggunaan bahan berbasis tepung dianggap kurang meyakinkan. Respons pemerintah kebanyakan dianggap tidak efektif dan justru menciptakan pertanyaan serius di kalangan publik.

Masalah ini semakin membesar ketika pemerintah memotong anggaran BNPB dari Rp2,01 triliun pada 2025 menjadi hanya Rp491 miliar. Anggaran yang terlalu kecil ini menimbulkan keraguan tentang komitmen negara dalam menghadapi bencana. Sementara itu, negara lain yang dihadapi situasi serupa tampak lebih siap, seperti penggunaan helikopter untuk water bombing yang ditampilkan melalui media sosial.

Penulis menekankan pentingnya komunikasi visual yang jujur dan transparan dalam menyampaikan situasi bencana. Visualisasi data yang akurat dan representatif dapat membantu publik memahami sebenarnya skala bencana dan kebutuhan penanganan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya melihat gambar yang dramatis, tetapi juga memahami konteks nyata di baliknya, sehingga dapat mendorong pertanggungjawaban yang lebih besar dari pemerintah.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait